Feb 06 2007

ngalorngidul

Banjir Jakarta 2007

Posted at 12:58 am under Uncategorized

Sudah jelas bahwa bencana memang tidak pernah diperhitungkan oleh masyarakat Indonesia. Semua manajemen bencana dianggap sebagai suatu kemewahan yang hanya menghamburkan biaya tanpa manfaat yang jelas. Kerugian jelas tidak sedikit. Belum lagi ketidaknyamanan yang disebabkannya.

Banjir Jakarta bukan hanya mempengaruhi kota Jakarta secara umum. Tapi juga berdampak pada kota-kota satelitnya. Bekasi dan Tangerang sebagai satelit Jakarta di arah timur dan barat pastinya tidak luput dari banjir. Sedangkan satelit di selatan Jakarta, yakni Depok dan Bogor yang biasanya berstatus sebagai ‘carrier’ banjir, saat ini juga mengalami dampak yang cukup mengganggu.

Ketika curah hujan turun cukup tinggi di wilayah Bogor dan bagian hulu sungai, sebagian kawasan Bogor sudah merasakan dampaknya lebih dulu. Genangan air sudah mulai menyambangi kota ini. Sementara Depok yang biasanya hanya menjadi salah satu tempat pemantauan ketinggian sungai Ciliwung untuk mengukur apakah Jakarta akan dilanda banjir atau tidak, kali ini pun kebagian genangan air. Curah hujan tinggi yang tidak diimbangi dengan kemampuan saluran pembuangan, menghasilkan genangan yang mengganggu kenyamanan pemukiman dan jalan raya. Tapi yang lebih penting lagi adalah sumbangan sampah dari aliran sungai Ciliwung yang menghentikan operasional PDAM.

Memang berhentinya air PAM ke pelanggan bukanlah sesuatu hal yang cukup prioritas. Namun setidaknya hal tersebut memberikan gambaran bahwa warga Indonesia sepertinya memang tidak bisa mengandalkan layanan infrastruktur. Sepertinya terlalu banyak bencana yang harus dihadapi, sehingga kalaupun memang ada pengelolaan bencana, rasanya tidak akan mencakup keseluruhan. Dengan kata lain, warga Indonesia memang harus siap menghadapi bencana.

Menurut surat edaran PDAM dijelaskan bahwa berhentinya operasional PDAM Depok diakibatkan oleh lumpur, genangan air, dan sampah yang menghalangi kerja pompa. Sudah tentu posisi pompa diperhitungkan sedemikian rupa sehingga tidak mudah terganggu. Tapi dengan bencana, semua perhitungan manusia hanya tinggal di atas kertas. Kenyataannya akan jauh lebih buruk yang diperhitungkan.

Belum lagi kita bicara soal infrastruktur telekomunikasi yang sebenarnya tidak terkena imbas langsung dari bencana banjir. Tapi nyatanya STO Semanggi di Jalan Gatot Subroto Jakarta berstatus mati gara2 pemadaman listrik akibat banjir yang mengganggu komunikasi telepon se-Jakarta. Kita bicara soal Jakarta yang merupakan ibukota negara, pusat bisnis, pusat perputaran uang di Indonesia, pusat pembangunan, infrastruktur terbaik, tapi nyatanya bencana membalikkan itu semua. Tidak ada infrastruktur yang cukup baik untuk melawan bencana.

Akankah kita masih mengernyitkan dahi ketika bicara tentang fasilitas Disaster Recovery Center yang dibangun di Kalimantan? Akankah kita masih bertanya-tanya mengapa begitu jauh kita menempatkan fasilitas canggih semacam itu? Tidak cukupkah pulau Jawa sebagai lokasi yang dianggap aman?

Tidak dibantah lagi, Indonesia memang kaya sumber daya alam, yang mencakup sekaligus potensi bencana alam. Tinggal pilih, gempa bumi yang memang berlangsung teratur sebagai bagian dari aktivitas tetap kerak bumi, faktor alam yang tidak bersahabat sebagai bagian dari gejala global, dan mungkin disempurnakan dengan perencanaan yang buruk. Tentu saja tidak ada perencanaan yang sempurna, tapi memang kita barangkali lebih senang agar Tuhan saja yang merencanakannya.

Fakta-fakta:

No responses yet




Comments RSS

Leave a Reply