Archive for February, 2007

Feb 06 2007

Profile Image of ngalorngidul
ngalorngidul

Kebersamaan antar Pengendara Motor Non-Bebek

Filed under Driving, Safety, Vespa

Beberapa bulan belakangan ini saya baru mulai mengikuti pola masyarakat komuter kebanyakan. Sebelumnya saya mencoba menjadi anomali dari masyarakat komuter dengan (minimal) waktu berangkat kantor yang lebih siang, dan jika mungkin waktu pulang yang lebih malam. Seperti yang telah saya praktekkan sejak tahun 2003 semenjak pulang dari Malang.

Awalnya saya enggan untuk mengikuti pola komuter yang normal, yakni berangkat dan pulang kantor pada waktu puncak. Waktu puncak pagi hari terjadi antara pukul 06.00-08.30 WIB. Sedangkan waktu puncak di sore hari terjadi antara pukul 17.00-18.30 WIB. Demi menghindari rentang waktu tersebut, saya memilih untuk berangkat dari rumah setelah pukul 08.30 WIB dan keluar dari kantor setelah pukul 18.30 WIB. Sehingga saya jarang sekali mendapatkan kemacetan yang sangat parah dalam perjalanan sehari-hari.

Ketika saya berkantor dengan rekan-rekan kampus, saya memilih untuk berangkat lebih siang dengan pertimbangan produktivitas yang lebih baik karena tidak stres akibat kemacetan di jalan. Sedangkan waktu pulang yang lebih malam juga lebih baik karena bisa menangkap banyak ide dan ilham tentang pekerjaan agar lebih kreatif.

Begitu pula ketika saya melanjutkan kuliah. Saya memilih waktu kuliah malam hari dengan pertimbangan saya akan lebih tepat waktu dan tidak terlambat karena ketiduran misalnya. Apalagi lalu lintas di malam hari sepulang dari kuliah tentunya lebih lancar dan tidak membuat stres.

Namun kali ini saya tidak bisa menghindar lagi. Semenjak pihak manajemen kantor mulai menyadari kebiasaan saya untuk tiba di kantor tidak tepat waktu dan sesuai dengan jadwal yang mereka tentukan, saya harus mengikuti pola komuter. Berangkat dari rumah paling lambat pukul 08.00 WIB. Sedangkan pulang dari kantor masih tidak berubah jauh. Namun satu perubahan waktu keberangkatan saja sudah membuat stres lebih banyak. Utamanya karena kepadatan lalu lintas, terlalu banyak kendaraan di jalan raya dan terlalu banyak pengendara motor. Hingga saya sendiri sebagai pengendara motor ternyata sangat terganggu dengan pengendara motor lainnya.

Setelah saya perhatikan, ternyata saya seringkali terganggu dengan ulah pengendara motor bebek yang seenaknya. Tentu saja hal itu sangat ditunjang dari segi fisik motor yang ramping sehingga memudahkan pengendaranya untuk melakukan manuver apapun di jalan raya, apapun kondisinya. Apalagi pola mesin 4-tak tanpa kopling yang tentunya berbeda dengan gaya berkendara saya dengan skuter 2-tak berkopling. Hal yang paling mengesalkan dari pengendara bebek adalah:

Tidak mau menjaga jarak dengan kendaraan di depannya

Mereka ingin segala celah yang ada di jalan raya dengan pengedara di depannya (terutama motor) dimanfaatkan. Meskipun sering juga hal ini mengakibatkan benturan dengan kendaraan di depannya (hey, ini sudah konsekuensi … sejak kapan resiko benturan menjadi sangat kecil ketika semua orang ingin berdekatan?). Perhatikan saja bentuk spatbor belakang yang seringkali tidak mulus dan tidak utuh, bahkan terdapat bekas benturan yang diperkuat dengan bentuk pola ban. Begitu mengganggunya sampai-sampai mereka selalu menekan klakson ketika mereka menyadari bahwa pengendara motor di depannya menjaga jarak terlalu lebar. Bahkan mereka juga tidak peduli dengan pengguna angkutan umum yang butuh naik turun kendaraan.

Seenaknya menyalip kendaraan

Bukan sekedar menyalip kendaraan roda empat atau lebih yang memang perlu dilewati, tetapi juga sesama kendaraan roda dua. Mereka jarang memperhatikan jarak aman untuk menyalip sehingga sangat mengkhawatirkan pengendara lain (terutama roda empat/lebih). Bahkan jari kiri saya sempat terjepit oleh setang dari pengendara bebek yang mencoba menyalip dari sebelah kiri. Sehingga dalam hati saya (mencoba) mengumpat, “Otak seperti apa yang bisa membuat dia berpikir bahwa celah sesempit itu bisa dilewati? Bahkan sampai membuat orang lain terjepit dan kesakitan.” Saya tidak habis pikir dengan tindakan pengendara tersebut. Seburuk-buruknya kondisi untuk mendahului, kenapa pula harus memilih resiko yang paling tinggi, yakni celaka? Jika saya seorang pengendara yang agresif, mungkin pengendara itu sudah saya tendang sebagai balasan atas aksi gilanya. Saya mungkin tidak mau ambil pusing apakah dia akan celaka parah atau tidak. Yang penting dia sudah mengganggu saya, jadi reaksi tendangan saya rasa cukup wajar.

Seenaknya menyerobot

Dengan fisik motor yang ramping dan mudah dikendarai, pengendara bebek menjadi terlalu lincah sehingga menyerobot celah apapun yang mereka lihat. Tentu saja masalah utama dari menyerobot adalah mereka tidak memperhitungkan reaksi dari pengendara  lain. Dengan kata lain, aksi serobot mereka memaksa pengendara lain lebih stres karena harus bertoleransi kepada mereka. Baiknya memang kita punya satu kendaraan yang tidak sayang untuk terkena benturan untuk melawan aksi serobot ini. Bukan hanya lampu sein yang tidak pernah digunakan untuk berpindah lajur, atau melihat kondisi sekitarnya dulu sebelum mengambil lajur, tapi langsung slonong sana slonong sini. Seringkali saya lihat jarak motor penyerobot yang sangat dekat dengan bemper mobil. Betapa sengsaranya sang pengendara mobil jika sang penyerobot ceroboh dalam berpindah lajur dan tertabrak (dalam hal ini analoginya seperti pengendara mobil yang mencoba menyerobot KA). Jadi tabrakan dan benturan yang terjadi bukanlah karena sang pengendara mobil terlambat bereaksi.

Bandingkan dengan pernyataan seorang petugas polisi di satuan Kecelakaan Lalu Lintas Lap. Banteng,

“Jika dua pengendara sama sekali tidak melanggar aturan lalu lintas, maka tidak mungkin terjadi kecelakaan.”
Teori yang aneh, karena pelanggaran aturan lalu lintas dari satu pihak saja sudah cukup membuat kecelakaan. Apakah seorang masinis harus mengerem dan menjalankan KA perlahan pada kecepatan berhenti (di bawah 5kmj?) demi menyelamatkan seorang pengendara motor ceroboh yang rela melanggar pintu perlintasan KA?

Sedangkan ‘norma’ yang diadopsi oleh masyarakat Indonesia (terutama kawasan kota besar seperti Jabotabek) adalah kendaraan yang lebih besar memiliki kesalahan lebih besar. Jadi penyerobot yang ceroboh dan membuat kendaraannya tertabrak mobil yang sedang melaju secara hati-hati, adalah kesalahan sang pengendara mobil yang tidak mau mengerem untuk memberi jalan pada pengendara motor. Sejak kapan pencuri yang sedang beraksi diberi keleluasaan?

Dengan karakteristik pengendara motor bebek seperti ini, tidak heran jika di jalan raya saya sering beriringan dengan kendaraan non-bebek lain, seperti Honda Mega Pro, Honda Tiger, Yamaha RX-King, dan Yamaha Scorpio. Bahkan saya sama sekali tidak merasa Yamaha RX-King yang dikenal sebagai raja jalanan sebagai ancaman. Meskipun saya pernah tertabrak dari belakang di malah mari oleh seorang pengedara RX-King tanpa lampu. Ada beberapa pola dari kendaraan non-bebek yang saya anggap bukan ancaman ini seperti kapasitas mesin yang lebih besar dari bebek, serta penggunaan kopling. Tampaknya dua spesifikasi motor ini membuat pengendaranya lebih defensif, membatasi diri akan kecepatan, dan lebih tenang. Mungkin juga karena kapasitas mesin besar membuat mereka juga lebih percaya diri dalam berakselerasi. Sehingga mereka tidak perlu terburu-buru dalam melakukan akselerasi untuk mencapai kecepatan tinggi. Toh spesifikasi motor yang lebih tinggi membuat mereka lebih unggul.

Berbeda dengan motor bebek yang rata-rata berkapasitas mesin di bawah 125cc dan sistem tanpa kopling. Barangkali untuk mencapai laju yang sama dengan motor-motor non-bebek di atas, mereka harus lebih agresif. Apapun latar belakangnya, tidak ada alasan yang bisa membuat pengendara bebek berlaku tidak sopan, agresif di jalan raya. Komentar akhir saya mungkin, “Mereka memang belum pernah merasakan  nikmatnya makan lokomotif.”

No responses yet

Feb 06 2007

Profile Image of ngalorngidul
ngalorngidul

Banjir Jakarta 2007

Filed under Uncategorized

Sudah jelas bahwa bencana memang tidak pernah diperhitungkan oleh masyarakat Indonesia. Semua manajemen bencana dianggap sebagai suatu kemewahan yang hanya menghamburkan biaya tanpa manfaat yang jelas. Kerugian jelas tidak sedikit. Belum lagi ketidaknyamanan yang disebabkannya.

Banjir Jakarta bukan hanya mempengaruhi kota Jakarta secara umum. Tapi juga berdampak pada kota-kota satelitnya. Bekasi dan Tangerang sebagai satelit Jakarta di arah timur dan barat pastinya tidak luput dari banjir. Sedangkan satelit di selatan Jakarta, yakni Depok dan Bogor yang biasanya berstatus sebagai ‘carrier’ banjir, saat ini juga mengalami dampak yang cukup mengganggu.

Ketika curah hujan turun cukup tinggi di wilayah Bogor dan bagian hulu sungai, sebagian kawasan Bogor sudah merasakan dampaknya lebih dulu. Genangan air sudah mulai menyambangi kota ini. Sementara Depok yang biasanya hanya menjadi salah satu tempat pemantauan ketinggian sungai Ciliwung untuk mengukur apakah Jakarta akan dilanda banjir atau tidak, kali ini pun kebagian genangan air. Curah hujan tinggi yang tidak diimbangi dengan kemampuan saluran pembuangan, menghasilkan genangan yang mengganggu kenyamanan pemukiman dan jalan raya. Tapi yang lebih penting lagi adalah sumbangan sampah dari aliran sungai Ciliwung yang menghentikan operasional PDAM.

Memang berhentinya air PAM ke pelanggan bukanlah sesuatu hal yang cukup prioritas. Namun setidaknya hal tersebut memberikan gambaran bahwa warga Indonesia sepertinya memang tidak bisa mengandalkan layanan infrastruktur. Sepertinya terlalu banyak bencana yang harus dihadapi, sehingga kalaupun memang ada pengelolaan bencana, rasanya tidak akan mencakup keseluruhan. Dengan kata lain, warga Indonesia memang harus siap menghadapi bencana.

Menurut surat edaran PDAM dijelaskan bahwa berhentinya operasional PDAM Depok diakibatkan oleh lumpur, genangan air, dan sampah yang menghalangi kerja pompa. Sudah tentu posisi pompa diperhitungkan sedemikian rupa sehingga tidak mudah terganggu. Tapi dengan bencana, semua perhitungan manusia hanya tinggal di atas kertas. Kenyataannya akan jauh lebih buruk yang diperhitungkan.

Belum lagi kita bicara soal infrastruktur telekomunikasi yang sebenarnya tidak terkena imbas langsung dari bencana banjir. Tapi nyatanya STO Semanggi di Jalan Gatot Subroto Jakarta berstatus mati gara2 pemadaman listrik akibat banjir yang mengganggu komunikasi telepon se-Jakarta. Kita bicara soal Jakarta yang merupakan ibukota negara, pusat bisnis, pusat perputaran uang di Indonesia, pusat pembangunan, infrastruktur terbaik, tapi nyatanya bencana membalikkan itu semua. Tidak ada infrastruktur yang cukup baik untuk melawan bencana.

Akankah kita masih mengernyitkan dahi ketika bicara tentang fasilitas Disaster Recovery Center yang dibangun di Kalimantan? Akankah kita masih bertanya-tanya mengapa begitu jauh kita menempatkan fasilitas canggih semacam itu? Tidak cukupkah pulau Jawa sebagai lokasi yang dianggap aman?

Tidak dibantah lagi, Indonesia memang kaya sumber daya alam, yang mencakup sekaligus potensi bencana alam. Tinggal pilih, gempa bumi yang memang berlangsung teratur sebagai bagian dari aktivitas tetap kerak bumi, faktor alam yang tidak bersahabat sebagai bagian dari gejala global, dan mungkin disempurnakan dengan perencanaan yang buruk. Tentu saja tidak ada perencanaan yang sempurna, tapi memang kita barangkali lebih senang agar Tuhan saja yang merencanakannya.

Fakta-fakta:

No responses yet