Jun 02 2006
Tanggap Darurat yang Singkat (Gempa Yogya 2006)
2006/05/27–Pagi itu saya masih tidur selepas shalat Subuh karena masih lelah setelah hari sebelumnya berkendara Jepara-Semarang-Sleman-Semarang-Jepara seharian penuh. Bahkan saking lelahnya, dalam perjalanan Sleman-Semarang sempat mengantuk dan hampir menabrak angkutan umum yang sedang menaikturunkan penumpang. Tapi tiba-tiba lantai terasa bergoyang. Kebetulan saya hanya tergeletak di atas tikar di lantai 2.
Tidak sulit untuk menebak bahwa telah terjadi gempa bumi yang terasa di Jepara. Seketika saya terbangun, tapi dengan goncangan yang relatif lemah sepertinya bangunan rumah yang saya tiduri cukup kokoh untuk menahan guncangan tersebut. Ayah saya yang kaget karena banyak tetangga yang keluar rumah dan berteriak tentang adanya gempa yang mereka rasakan, hanya berdiri di pintu kamar sambil kebingungan. Nampaknya beliau tidak menyadari bahwa gempa sedang terjadi. Bahkan meskipun saya telah meyakinkan beliau bahwa saat itu sedang terjadi guncangan gempa bumi. Barangkali posisi berdiri beliau yang menggunakan kruk karena pincang akibat persendian lutut terkena asam urat membuat goncangan tidak terlalu terasa. Meskipun beliau berusaha memperhatikan lingkungan sekitar tentang adanya bukti-bukti guncangan gempa.
Menurut prediksi saya, gempa semacam ini beberapa kali (jika tidak dapat disebut sering) terjadi di Jakarta akibat aktivitas vulkanik Gunung Krakatau. Jarak antara Gunung Krakatau dengan Jakarta kira-kira hampir setara dengan jarak Jepara dengan Gunung Merapi yang sedang menunjukkan aktivitasnya. Tapi sungguh sesuatu fenomena yang aneh apabila gempa tersebut berasal dari aktivitas vulkanik karena justru beberapa minggu belakangan, Gunung Merapi sudah menunggu untuk memuntahkan segala isinya. Tapi lokasi titik pusat gempa yang berada di bagian selatan pulau Jawa tampaknya cukup masuk akal, meskipun agak mustahil berasal dari Gunung Merapi.
Beberapa hari yang lalu ketika saya memonitor RSS feed tentang gempa di atas 5.0 SR dari US Geological Survey, di pulau Jawa sempat terdeteksi mengalami gempa. Hanya saja tidak ada berita tentang dampak ataupun kerusakan di daratan. Gempa kali ini barangkali masih terkait dengan gempa tersebut. Meskipun aktivitas gempa di atas 5.0 SR di Laut Banda dan lempengan Sumatera dekat Aceh dan Nias bukan menjadi hal yang aneh lagi.
Siang harinya baru terdengar berita bahwa Yogyakarta diguncang gempa kuat. Banyak bangunan ambruk dan mengakibatkan korban jiwa. Sedangkan kota Yogyakarta sendiri panik diserang isu tsunami. Baru saja kemarin saya jalan-jalan ke Sleman, tapi hari ini Yogya sudah diguncang gempa. Berita yang pertama terdengar adalah kawasan Klaten yang mengalami banyak kerusakan bangunan. Sementara Yogya sendiri tidak terlalu banyak jatuh korban jiwa.
Baru sore harinya setelah televisi-televisi swasta mendapatkan informasi dari para kru di lokasi, saya mendengar informasi yang lebih heboh. Karena berita di televisi masih simpang siur, terutama tentang skala gempa dan lokasi pusat gempa, maka saya mematikan televisi dan mengakses situs USGS untuk mendapatkan informasi yang lebih lengkap. Beruntung akses GPRS Indosat dari Jepara tidak mengalami kesulitan. Awalnya menurut USGS, gempa tersebut berpusat di ± 25km barat daya kota Yogya, berkekuatan 6.2 SR, dengan kedalaman 17 km dpl. Dari informasi ini rasanya pantas jika kawasan Klaten diberitakan mengalami kerusakan lebih parah ketimbang kota Yogya seperti yang terdengar di berita televisi. Menurut USGS, lokasi pusat gempa tampaknya berada di kawasan Bantul. Sedangkan kota Klaten berada pada garis horisontal yang sama dengan Bantul. Bahkan efek gempa ini juga dirasakan hingga kawasan Malang selatan, sekian ratus kilometer ke timur dari pusat gempa.
Sementara tayangan televisi masih menampilkan suasana hiruk pikuk di rumah-rumah sakit di seputaran Yogyakarta, rekaman kejadian sesaat setelah gempa di kota Yogyakarta, dan kekhawatiran masyarakat akan adanya tsunami menyusul gempa, tampak tidak terlihat adanya koordinasi atau komunikasi yang lancar antar aparat pemerintah mengenai kejadian yang sebenarnya. Bahkan meskipun di kawasan Gunung Merapi sendiri telah didirikan pusat pemantauan vulkanik yang tentunya juga memiliki perangkat deteksi gempa. Memang kemudian di televisi diberitakan bahwa komunikasi sempat terputus di kawasan Yogya dan baru bisa pulih siang hingga sore harinya.
Hmm… konfirmasi tentang kekuatan gempa seperti yang dirilis oleh USGS bahkan baru bisa didapat sekian jam setelah kejadian melalui televisi (via BMG Yogyakarta). Jikapun aparat berwenang di Yogya butuh mengkonfirmasikan gempa yang baru terjadi dengan akses internet, hal itu juga akan terhambat karena komunikasi seluler terputus. Tampaknya perlu adanya semacam prosedur alur komunikasi yang lebih handal akan masalah darurat semacam ini. Idealnya semua aparat yang berwenang langsung bisa mempublikasikan atau mengkonfirmasikan satu sama lain tentang bencana alam. Jikapun BMG mengalami kesulitan untuk mendapatkan prediksi yang tepat tentang bencana alam tersebut, maka aparat lainnya bisa langsung mengakses situs USGS untuk mendapatkan informasi mutakhir sebagai gambaran. Namun jika jalur komunikasi terganggu, maka aparat di lokasi lain, harus lebih tanggap. Alias, bisa jadi pihak BMG di Semarang atau Surakarta langsung berusaha menghubungi aparat di Yogyakarta tentang bencana alam yang baru saja terjadi. Apakah gempa bumi disertai dengan tsunami, ataukah tidak sebagai misal. Bahkan jika perlu semua aparat yang terkait dengan bencana alam memiliki jalur komunikasi darurat seperti telepon satelit agar komunikasi tidak terputus.
Buktinya ketika tsunami melanda Aceh dan sekitarnya, jalur komunikasi sama sekali terputus. Aparat di daerah lain pun tidak bisa mengkonfirmasikan dampak kerusakan bencana alam yang baru terjadi. Sementara aparat yang berada di lokasi sedang terisolir komunikasi. Jika saja aparat di Aceh memiliki jalur komunikasi darurat yang andal, maka setidaknya informasi tentang tsunami maha hebat yang melanda daerah mereka bisa langsung dipublikasikan kepada yang lain.
Bahkan sepertinya presiden pun harus menunggu lama untuk mendapatkan kepastian tentang dampak kerusakan dan rincian bencana alam yang terjadi di Yogya. Jika presiden bisa cepat mengakses situs USGS, maka barangkali beliau bisa bertindak lebih cepat sehingga konferensi pers tentang tanggap darurat sudah bisa dilakukan sebelum waktu Dhuhur masuk. Barangkali jika menunggu birokrasi berjalan, akan lama terhambat. Bukan semata karena jalurnya yang panjang dan berliku, tapi karena harus menunggu konfirmasi dari petugas di lokasi kejadian.
Sama juga ketika gempa di Aceh yang disertai tsunami, BMG hanya mendeteksi gempa dengan skala di bawah 9.0 SR dan sama sekali kurang memperhitungkan efek tsunami. Sedangkan USGS merilis gempa yang berkekuatan 9.0 SR meskipun ukuran tersebut juga hanya bersifat prakiraan. Tampaknya over estimate terhadap bencana alam lebih bermanfaat ketimbang pengukuran yang akurat. Karena over estimate tersebut lebih membantu terhadap langkah tanggap darurat ketimbang harus menunggu pengukuran yang akurat.
