Archive for January, 2006

Jan 27 2006

Profile Image of ngalorngidul
ngalorngidul

Tertib Berlalulintas

Filed under Driving, Safety

Perilaku pengendara (masyarakat Indonesia) dalam berlalu lintas rupanya sangat tidak tertib. Apalagi dalam kondisi lalu lintas yang padat, akan mudah terlihat betapa tidak tertibnya para pengguna jalan. Peraturan sebenarnya sudah ada dalam UU Lalu Lintas. Namun penegakannya yang masih perlu dipertanyakan.

Institusi kepolisian sebagai tonggak utama penegakan UU Lalu Lintas rupanya tidak mampu mengatasi kerunyaman lalu lintas. Hal ini sangat mencolok pada kondisi lalu lintas di kota besar yang melibatkan banyak kendaraan dan banyak orang. Semakin banyak orang, tentunya semakin perlu peraturan ditegakkan agar semuanya dapat terlayani atau memanfaatkan fasilitas jalan dengan baik.

Budaya Indonesia

Perilaku tidak tertib ini rupanya sangat terkait dengan budaya keseharian masyarakat Indonesia ini. Dengan kondisi alam Indonesia yang subur, kaya dengan sumber daya alam tentunya membuat masyarakat yang hidup di dalamnya harus berjuang untuk mengolah alam yang penuh rahmat ini. Namun karena ketersediaan sumber daya alam yang banyak membuat masing-masing orang saling berebut lebih dahulu dalam hal penguasaan. Sehingga orang yang datang belakangan hanya menikmati sisanya. Tentunya sisa ini masih mencukupi untuk dijadikan sandaran hidup sehari-hari.

Dengan begitu, budaya maklum juga sangat terpelihara di bumi Indonesia ini. Karena pendatang yang belakangan harus memaklumi bahwa dia harus mencari lahan/mengolah alam yang tersisa dari penguasaan. Tidak ada yang dapat dilakukan olehnya untuk memperoleh lebih banyak, atau mengambil alih penguasaan (secara umum). Begitu juga ketika berkendara, karena saya yang lebih berkuasa (dengan kendaraan lebih besar dan lebih cepat), maka pengendara atau pengguna jalan yang lain harus maklum pada saya. Apapun kondisinya, pokoknya hak saya harus ditegakkan untuk melintasi jalan ini dengan sempurna. Akhirnya kebiasaan ini berlanjut terus hingga abad modern di mana kota-kota semakin berkembang menjadi metropolitan yang memiliki kompleksitas tinggi.

Begitu pula dengan pola kehidupan sosial masyarakat yang sangat erat. Membuat budaya maklum semakin terpelihara, selama ia mematuhi peraturan komunitas tersebut. Tapi sekali saja ia melanggar peraturan komunitas ini, maka hukuman sosial akan lebih berat.

Budaya Barat

Berbeda dengan alam di Eropa (baca: negara Barat) yang umumnya tidak memiliki sumber daya alam sekaya Indonesia. Akibatnya para penduduknya pun harus saling berbagi untuk dapat meneruskan kehidupan. Karena sumber daya alam yang begitu sedikit. Kesewenangan dalam penguasaan tanpa mau membagi tentunya sangat tidak alamiah, karena dia akan mendapat penentangan dari orang-orang di sekitarnya yang tidak kebagian.

Ketika berkendara di jalan, maka ia pun menghormati pada pengguna jalan yang lain yang direfleksikan pada dirinya. Jika ia berada pada posisi seperti itu (posisi minoritas/kalah), maka dia akan sangat gembira jika dia mendapat kesempatan yang sama. Sehingga para pengguna jalan tidak peduli apakah dia lebih besar atau lebih cepat, semuanya memiliki hak yang sama dalam menggunakan fasilitas jalan ini. Sehingga mereka saling berbagi, tidak saling menyerobot, karena toh jika sedang macet, perbedaan hanya berjarak beberapa mobil, tidak berbeda setengah jam, maksimal hanya lima menit.

Akan halnya pola kehidupan sosial dari penduduk Eropa yang cenderung individualistis, ternyata sangat mendukung pola hidup saling berbagi ini. Masyarakat sekitar tidak boleh tahu urusan dirinya, yang penting keberadaan dirinya tidak mengganggu orang disekitarnya. Karena dia sendiri tidak ingin kepentingan pribadinya terganggu.

Penerapan konsep sederhana antara saling berbagi dan saling berebut ini dalam skala yang lebih besar akan sangat berarti. Perilaku yang baik dari pengendara dalam lalu lintas padat akan sangat berarti bagi ketertiban lalu lintas secara keseluruhan. Walaupun memang di rumahnya (yang mungkin tidak berada di perkotaan) tidak pernah ada masalah jika ia berlaku tidak tertib, namun itu bukanlah alasan bahwa ia harus berlaku tidak tertib.

Memang kode etik di jalan raya selalu ada, apakah itu di negara yang tertib (seperti Amerika Serikat sebagai contoh mudah), atau di Indonesia yang lumayan ruwet lalu lintasnya. Pada penduduk yang tertib berlalu lintas, kode etik ini didasarkan pada peraturan lalu lintas yang ada. Sedangkan kode etik pada dari penduduk yang tidak terbiasa tertib adalah didasarkan pada situasi dan kondisi di jalan raya.

Contohnya, dalam hal berpapasan di jalan luar kota, kode etik pengendara di AS adalah mendahuluilah kendaraan di depan jika kondisi memungkinkan. Kondisi memungkinkan ini terdiri dari, pandangan bebas tidak terhalang, marka jalan yang membolehkan, dan mendahului dari sebelah kanan dengan leluasa dari kendaraan dari arah berlawanan. Kendaraan yang arah lalu lintasnya berlawanan dapat mengingatkan pengendara yang akan atau sedang mendahului ini untuk mempercepat proses mendahului ini atau membatalkannya karena kondisi yang tidak memungkinkan dengan menggunakan kode lampu dim untuk mengingat si pengendara ini. Sedikit saja sorot lampu dim terlihat, maka pengendara ini pun bersabar untuk menunggu kesempatan mendahului berikutnya setelah kendaraan dari arah berlawanan tersebut lewat.

Sementara di Indonesia, hukum yang berlaku adalah hukum alam. Kondisi memungkinkan adalah bukan pada kondisi darurat, yaitu kendaraan akan bertabrakan. Dalam hal mendahului kendaraan lain, maka aturannya hanya satu, apakah si pengendara ini dapat melajukan kendaraannya mendahului kendaraan di depannya tanpa menabrak kendaraan dari arah berlawanan. Tidak peduli apakah ada marka jalan yang melarang, pandangan tidak bebas, atau bahkan kendaraan dari arah berlawanan telah berulang kali mengingatkan si pengendara ini dengan lampu dim. Sekalipun proses mendahului ini hasilnya sangat mepet, atau hampir bersenggolan atau bertabrakan.

Hal ini terlihat pada perilaku pengemudi bus malam. Satu-satunya yang dapat menghalangi mereka adalah, kode etik untuk mengingatkannya. Bukannya lampu dim sekali atau sorot terang dari lampu kendaraan di hadapannya, tetapi lampu dim berkali-kali untuk mengingatkan bahwa dia tidak mau memberikan kesempatan bagi kendaraan di depannya untuk mendahului. Lampu dim ini dinyalakan berkali-kali hingga si pengendara membatalkan niatnya untuk mendahului. Jika hanya beberapa kali, hasilnya tetap sama saja, si pengendara membandel dan tetap mendahului kendaraan di depannya walapun akan mepet atau bahkan membuat posisi kendaraan di hadapannya terjepit sehingga harus berhenti atau minggir.

Tentunya jika seseorang ingin bertahan hidup di komunitas tertentu, dia harus beradaptasi dengan lingkungan tersebut. Jika ia bertahan dengan konsep-konsep aturan yang ia yakini, walaupun tidak sesuai dengan aturan dalam komunitas. Niscaya dia tidak dapat bertahan hidup, karena hidupnya akan tersiksa, selalu menjadi terhukum. Begitu juga dengan menegakkan ketertiban lalu lintas yang benar selalu akan menjadi bulan-bulanan pengguna jalan lain yang tidak sadar dengan tertib lalu lintas. Memberikan kesempatan pada pejalan kaki untuk menyeberang di zebra cross saja sudah diklakson oleh pengendara di belakangnya yang tidak sabar untuk segera melaju karena dianggapnya tak ada hambatan berarti seperti kemacetan. Padahal pejalan kaki punya hak untuk menyeberang dengan aman, tanpa harus was-was akan ditabrak. Semakin sering ia ‘menegakkan ketertiban’, semakin banyak pula pengendara lain yang terganggu dengan ‘penegakan ketertiban’ ini. Karena memang mereka tidak sadar akan aturan ketertiban yang seharusnya diperoleh ketika mengajukan permohonan SIM.

Tentu tidak seimbang jika memperbandingkan AS dengan Indonesia dalam hal ketertiban ini. Karena banyak alasan yang membuat pengendara Indonesia berlaku tidak tertib. Apakah itu karena aparatnya yang tidak menegakkan aturan, atau kondisinya yang tidak memungkinkan (terlalu banyak kondisi darurat di jalan raya Indonesia, jembatan rusak, jalan yang berlubang).

Namun masalahnya tinggal kebiasaan. Jika masyarakat menyadari akan arti pentingnya saling berbagi, segalanya akan menjadi lebih mudah. Bukan hanya berbagi suka dan duka dalam hidup sosial, tetapi juga ketika berada di jalan raya. Jangan sampai dia melanggar hak orang lain, atau berbuat zalim pada orang lain dengan melanggar haknya untuk memanfaatkan fasilitas jalan.

Contoh Perilaku Tidak Tertib

  1. Mendahului kendaraan lain tanpa mempedulikan kendaraan dari arah berlawanan (apalagi jika kendaraan itu lebih kecil, seperti bus malam yang berhadapan dengan kendaraan pribadi).
  2. Menyerobot jalan dan berjejal, walaupun efeknya hanya lebih cepat beberapa detik, atau menit. Apalagi jika berada dalam kondisi macet, efeknya makin tidak signifikan, kecuali ketidaksabarannya terpenuhi.
  3. Pengendara motor yang berada di lajur tengah, ngotot tidak mau minggir jika ada kendaraan lain yang ingin mendahuluinya.
  4. Pengendara mobil yang ingin mendahului dari sebelah kiri sampai harus mengusir pengguna jalan lain, seperti pejalan kaki, pengendara sepeda, pengendara motor, walaupun lajur kiri ini bukanlah hak dari pengendara mobil untuk menggunakannya.
  5. Mengendarai kendaraan dengan jarak bumper-to-bumper walaupun dalam kecepatan tinggi di jalan tol. Dianggapnya sama dengan jalan macet di perkotaan yang membuat orang lain tergiur untuk menyerobot karena ruang yang tersedia. Bahkan hal ini akan menjurus pada kecelakaan dan kemacetan yang lebih panjang, karena orang saling berebut untuk berada terdepan, walaupun harus menghadang lalu lintas dari arah sebaliknya. Juga menyulitkan pengguna jalan lain untuk lewat (misalnya motor, atau pejalan kaki yang ingin menyeberang).
  6. Pengendara motor yang tidak menyalakan lampu. Entah apa sebabnya, padahal kondisi motor pun terlihat masih bagus, tapi segan menyalakan lampu, mungkin dianggap seperti uji nyali. Padahal perlengkapan lampu itu ditujukan agar pengendaranya lebih nyaman dalam berkendara di malam hari karena jalan lebih terlihat jelas, juga sebagai identitas keberadaan dirinya di jalan bagi pengendara jalan yang lain.
  7. Melanggar marka jalan. Mungkin banyak yang menganggap marka jalan hanya sekedar penghias jalan raya. Sehingga seringkali dianggap remeh, padahal marka jalan diberikan untuk memberikan batasan-batasan bagi pengendara ketika
    melintasinya, sehingga memperkecil kemungkinan kecelakaan karena mendahului di tikungan dengan pandangan tidak bebas misalnya.

Sekian dulu unek-unek saya. Lain kali dilanjutkan. Oya terakhir, jangan terlampau mengandalkan pak Polisi dalam penegakan ketertiban jalan raya ini. Memang rasio polisi selalu tidak seimbang dengan masyarakat. Kemacetan selalu mengandalkan polisi ini cuma karena para pengguna jalan tidak saling tertib. Kasihan mereka, karena tugas polisi lalu lintas bukan hanya mengatur kemacetan. Kemacetan hanya bisa diatasi dengan kesabaran dan ketertiban. Sayangnya memang ketertiban ini hanya tegak di hadapan petugas.

Sebagaimana dikirimkan ke Redaksi Suara Surabaya http://suarasurabaya.net menanggapi berbagai diskusi perilaku lalu lintas di acara Kelana Kota.

technorati tags: ,

No responses yet

Jan 25 2006

Profile Image of ngalorngidul
ngalorngidul

Road Flood at Jakarta: Prepare Yourself for a Boat

Filed under Driving, Vespa

Just when I thought I have experienced the worst road flood. It turned out it was just a regular and daily routinity on Jakarta’s road condition when it was raining. I had through a terrible road flood when I went to Pondok Cina (Depok) from my home. It was raining hard and I cut through Univ. of Indonesia complex. Just leaving Polytechnic gate, I was on a curve crossing a small river which connects a natural water resource (Bahasa: situ) and a valley. The valley separates faculty of economy and cultural sciences. When it was raining, the small river overflow the road above it. I was driving a Piaggio PX-150 and swam through the flooded road. I mean I was really swimming on the water instead of driving through the flood. I had trouble to maintain wheel grip. As I remember, it was like a 2-stroke 150cc 2-wheeled boat.

Until I regularly commute between my home (Depok–a suburb city) and Jakarta to the office. I have never feared and worried about hard rain since I have well prepared. Two set of raincoat, a pair of sandals, and good helmet assures me to drive through the rain. The perfect and goodly shaped Piaggio was ideal to prevent water splashes from my own driving. Unlike non-scooter motorcycle, Vespa (as well as other scooter) have large wing on the front side to protect me from front tyre’s splash. The raincoat and sandals are good to protect me from unwanted splashes from other vehicle.

It was fine when I travelled between Depok-Ps. Minggu, or Depok-Salemba. But someday, I need to find another low traffic route to go from Salemba-Mampang. Sinces it was raining, the usual route (Salemba-Manggarai-Pancoran-Mampang) was already crowded. I thoguht Kuningan route would provide more space than the usual route. No suspicion until I hit the Jl. Rasuna Said (the official name of Kuningan road). The rain was OK for me. But the road flooded with water, reaching 50cm deep. The water height was a problem for my low-road clearance exhaust. If the traffic is till flowing, I have courage to drive through while maintaing my throttle high to prevent water flooded my exhaust. But the traffic were not flowing and it turned out that cars avoiding the flooded too since it was too deep. The worst section had about 80cm deep. With that condition, I decided to stop by at unflooded area waiting for the flood gone. Because 10 minutes driving on flooded water had cause the Piaggio’s gear hard to change.

Today (2005/09/30), on Friday evening, I was on the way to Rudy’s office. The crowded and flooded Jl. Supomo, especially the section across Sahid University made me divert route. I thought the alternative route through Tebet Barat was less flooded. But it wasn’t and I chose to stop by at a near mosque avoiding flooded-traffic jam and conduct Maghrib pray. I finally realize that it was just a usual evening of flooded Jakarta. After all when I watch the news about Jakarta’s flood on the day I got trapped at Kuningan, the other road had gone worst, stopping almost every vehicle.

One response so far

Jan 23 2006

Profile Image of ngalorngidul
ngalorngidul

Are you tough enough?

Filed under Technology

R310_1

Tough phone. Ready to rock and roll. Doesn’t matter about water, dust. You can even submerge it under water. Yeah, it’s a GSM phone, siblings of very rock solid–handytalky enabled–R250s. While satellite-enabled version available as R190.

While Ericsson was consistent creating mature product, these weatherproof versions didn’t have any successor. Only Siemens continue to release dust/splash-resistant version of their GSM using their M-series. Even latest M65 of Siemes cannot match this type of Ericsson.

I choose blue, even though I like the orange better. Since blue feature color protection of cellphone, conceal it from suspicious eyes and unnecessary attention. Unless you focus on the form, you unbarely notice it. I also looked for its outdoor accesory, featuring strong metal clip, portable compass, thermometer, and a short ruler provided by Victorinox Swiss. A compass would very helpful providing qiblat direction wherever I go and also validate given direction.

The hunt

Amazing reviews from http://www.forumponsel.com, fanatic owners, and lots of convincing testimonial. Someone said, the phone was okay when he dropped it along riding a motorcycle at about 40km/h. Scratches is a friend. Another tested to submerge it about a minute and the phone even receiving a call–surely with bubbles.

These information plus electronic manual available in PDF which wrote you can wash this phone under tap water gently. Wow! Even the official manual urged you to play in the water (note: the official manual told owners to turn off the phone first). Try this at home? Not so fast.

I was searching for a mobile phone around 2001. I decided to look for newly blue R310–together with compass-thermometer accessory. The hunt begun on February 2001. Last production date of R310 was December 2000 or February 2001. So I should easily found it. A cellphone review website even mention R310 complete with accessory is available for 1,25 million IDR. But not until August 2001, I didn’t own an R310 phone. On February 2001, a Malang vendor was showing a second-hand-2-months old blue R310. Since they didn’t offer the accessory, I didn’t buy it. It turned out that it was the last stock. Hunting from Malang to WTC Surabaya (cellphone marketplace), resulted nothing.

Later when I go back to Jakarta, I focus my hunt to Roxy. But their stock of secondhand (no fresh stock) R310s was dissappointing. Bad condition (scratches, peeling keypad) and expensive. So I turned to internet. Back in Malang, someone at http://www.iklanbaris.co.id offered a complete blue R310 with outdoor accessory (even with type-pad making your sms-typing faster) only for 750 thousand IDR. Good bargain, but the transaction was difficult.

Later on, I found a ‘disgruntled’ owner of blue R310 complete with outdoor accessory offering for 700 thousand IDR at same place. He get a little bored with his and decided to change for another. He was a Kompas-affiliated reporter. He invited anyone to see the condition of R310 at his office. At the same time, I drove Abah for PKB 1st anniversary and went home at about 9pm. I phoned the R310 owner to make appointment. He was available along the night at his office on Palmerah.

So I got there, looking at a pretty filthy R310, especially on its outdoor accessory. He showed the complete package, unfortunately with rat-eaten charger adapter. I asked for the definite price and he mentioned 675 thousand IDR. Wow!!!! a lot cheaper … even with last tempting offer (which include a type-pad). No more bargain, 675 thousand it is, cash. And I my days are happier with R310. Don’t bother about watersplash, rain or anything. You can throw it away with relief.

Torture test

Before testing and further use, I washed the phone and its accessory for clean and shiny. Now the phone is clean and didn’t looked filthy anymore. For about 2 months, no real torture test. I was convinced with its screw-tighten backcover. The battery was even more convincing, featuring rubber seal for water protection.

After 2 month, when I bathed at Malang, the torture test begun. I dipped it in the water for about 1 minute and activated stopwatch, not forgetting to turn the light on. First seconds started with bubbles filling vacant aperture to remove air with water. The phone is rock, lights under water. After this test, I must be prepared for component change or another form of service.

Problems

In 2003, the phone stopped working. I could not even turn it on. The service center diagnose it as a fail RF chip which cost 75 thousand IDR. Pretty cheap for old stuff. I thought the damage was severe which require me change cellphone.

In 2005, the phone can’t hook up cell signal. When it reaches full signal strength, it is functional. Otherwise you get a zombie phone, alive but no activities. No SMS send/receive and no phone calls. The service center diagnose it as a fail RF chip (again). This time it cost 100 thousands IDR. Another pretty darn cheap service to keep R310 alive. The service officer even offered me for physical cover change which didn’t brought my attention. Since I know that it’s out of stock, from years ago (I already try to find physical cover–since now I only got 1 screw for backcover instead of 2–from 2003 and got nothing).

In December 2005, the speakerphone was dead. I couldn’t receive any call since I can’t hear anything. The option was to repair it at service center. But the cost would be too much, a minimum 75 thousands IDR. I would opt for a handsfree device instead. The non-original should not expensive, in fact I could get it for 30 thousands IDR only. Well, 30 thousands IDR for a much comfortable (read: always handsfree mode) cellphone usage was okay. At least I could receive any call during my riding.

No responses yet

Jan 23 2006

Profile Image of ngalorngidul
ngalorngidul

Unpleasant executive coach

Filed under Travel

It is urgent for KAI (Indonesian Railway Company) to prioritize its rolling stocks’ maintenance. Executive cars modification/fabrication begun at 1995 when KAI launch Argo Bromo & Gede together with first deployment of CC203. Next thing we know KAI launch some long-distance train equipped with new executive cars. Typical train consist of 8 executive cars with 54 seats, 1 restaurant cars, and 1 generator. Executive car’s feature includes air conditioning, simple reclining seat, compact dinner table, automatic sliding door, toilet-seat with gun shower, integrated audio/video, and neatly-spaced luggage compartment.

Then one by one this new style of executive car made by INKA serve to public. Although I doubt that KAI could handle such rolling stock maintenance. Years before KAI only relies on business cars modified with small-thin carpet and headrest clothing. In the beginning ’90s, those business cars also equipped with insects as cockroach to small rats.

In my experience with Gajayana between 2001-2003, first Gajayana used only 2 new-style executive cars of 8 cars. But in the end of 2001, Gajayana consist of all 8 executive cars. Year 2001-2003 are production date of Gajayana’s executive cars, so most of the time I enjoyed this comfortable car. But that won’t last long. In the mid year of 2002, I already witnessed degradation to the car due to lack of maintenance and design flaw. It started with deteroriated LED (7-segment style to be exact) information sign. Then it continued with broken sliding door, inoperational audio/video, and broken air conditioner. Although at the beginning of its operation it had air conditioner problem also. It caused the technician to run front-to-back of consist to get things right. The car was just 11 days old from production date.

More and more, Gajayana consists are mixture of new and old cars making unequal service within just 1 train. We can assume that old cars are in low shape but same thing for new cars which is not 100% condition. Passenger could not make use of diner table to have meal, bad climate control, and unenjoyable audio/video. I liked the first audio/video service that plays original VCD movies not like now with VHS playback of pirated movies.

It is quite obvious that KAI could keep the executive cars in top shape. Most of maintainance only covers exterior washing and interior cleaning only with simple brooms. While it should prepare such as vacuum cleaner and rug shampooing. Not to mention the desinfectant procedure which have to wait for next scheduled Balai Yasa’s maintenance. Plus interior design flaw such as dinner table design which could easily slip and broke without excessive force. But I admire that its interior design was properly consider style and ergonomics.

Besides KAI’s limited material maintenance, their crew also considered as a disappointment. There were no much steward crew recruitment which make the service disappointing. I had only count up to 4 shift of steward, nothing more on the cleaning crew that count only 2 shift. While tipical cabin crew service were selling food & drinks across the train consists. It would be no surprise that passenger could only grins when they remind them of closing the door to maintain comfort.

I agree that night’s meal is insufficient both in quantity and quality. As I recall, in the beginning of Gajayana operation back in the year of 2001, the meal was sufficient and quite delicious. Unless its aircon freezed me and leave me in hunger. That degradation of meal is based on customer’s responses indirect. In my opinion, customer prefer to have his/her own meal brought from home or favorite restaurant. I conclude this because too much leftover of train’s meal at the end of meal service. Although I like its steak that cost me much extra. But anyway I’m a railfan and intend to donate as proof of my love to train.

Gajayana’s ticket price that costs up to 200 thousand IDR easily considered as too expensive. It is true when you compare with executive bus coach ticket, airline to Surabaya, or even alternate train journey (using Surabaya-headed train to Jombang or Surabaya and continued with regular bus). But if you think again like a KAI’s executive :-), you realized that Gajayana occupancy is quite high. I would confidence keeping the price to add KAI’s income. After all company policies are prioritizing on maintenance, not customer satifaction or loyality. I myself prefer to use that expensive Gajayana to enjoy beautiful tunnel scenery of Karangkates duct besides its sufficient arrival time compared to bus coach.

Well, if you talk about CC203 that pulls oil tank consists. You should understand the situation. Picture this, Malang region only had 2 or even 1 CC201 for Matarmaja train, definitely one CC203 for Gajayana. The others motive power would be BB301 to pull Surabaya-Malang train, Penataran and maybe Doho consists, and oil kettle for Pertamina. So whenever one of BB301 out of service, CC203 would be a good alternative since its good shape and relatively high maintained.

IMHO, Gajayana was still below Argo class although they had same priority. Unless if you compared Gajayana with old Argo Bromo (and not the latest Argo Bromo Anggrek).

No responses yet

Jan 17 2006

Profile Image of ngalorngidul
ngalorngidul

Cabriding dan keselamatan KA

Filed under Safety

Berdasarkan aturan, cab riding adalah perbuatan terlarang. Karena dapat mengganggu kinerja masinis yang sedang menjalankan KA. Padahal tanggung jawab masinis itu sangat besar dan musti awas setiap saat.

Cab riding bisa dilegalkan jika memang ada kesepakatan seperti:

  1. Railfan yang selalu berangan2 jadi masinis :D
  2. Railfan yang ingin melihat pemandangan dari cab-view
  3. Orang yang pengen liat pemandangan baru sebagai penumpang
  4. Sang cab rider tidak akan mengganggu kinerja masinis
  5. Cab rider tidak menambah tanggung jawab masinis atas keselamatannya (misalnya karena cabriding-nya pake kepala longok2 keluar)

Jika Kadiv Jabotabek membuka kesempatan bagi railfan untuk cab riding KRL, serta informasi tentang izin legal cab riding untuk semua perjalanan KA, maka sebaiknya kesempatan ini digunakan secara sebaik2nya dan bijaksana demi keselamatan kita bersama.

No responses yet

Jan 17 2006

Profile Image of ngalorngidul
ngalorngidul

Kecelakaan di Perlintasan KA

Filed under Driving, Safety

Permasalahan perlintasan KA bukan cuma monopoli Indonesia saja. Amerika saja yang termasuk disiplin juga punya problem dengan perilaku pengemudi yang doyan memotong perlintasan sak karepe dewe. Meskipun gerakan Operation Lifesaver telah memiliki jangkauan nasional, tapi tetap saja masih ada kecelakaan di perlintasan (yang sudah berhasil ditekan hingga 74% sejak Operation Lifesaver dimulai).

Sebagai awal, saya lebih berharap agar dalam setiap kecelakaan yang melibatkan KA (karena pihak lain yang melanggar lintasan khusus KA), operator KA tidak dirugikan. Kemudian baru dilanjutkan dengan kesadaran masyarakat untuk mendahulukan KA. Karena untuk perlintasan KA saja, masyarakat secara awam hanya bisa bilang, “Gimana mau menyelamatkan diri dari hantaman KA, lha wong aspalnya rusak! PT KA tidak pernah becus merawat perlintasan KA.” Lho?? Sudah untung dikasi pintu perlintasan dan penjaga, lha kok?

Tapi yang namanya musibah memang kuasa Tuhan. Beberapa waktu yang lalu ada tetangga yang meninggal tertabrak KRL di St. Lenteng Agung. Dengan latar belakang kariernya sebagai PNS yang tidak terhitung baru, saya ragu apakah kesadarannya untuk mendahulukan KA segitu rendah. Tampaknya memang hal itu murni kecelakaan. Karena:

  • Perlintasan jalan orang untuk menyeberang ke jalur KA berlawanan sudah diberi pagar (meskipun tidak zigzag). Secara teori, penyeberang tidak akan menyeberang dengan sembrono. Minimal dia sempat berpegangan pada pagar, dan semoga dia menoleh ke kiri dan ke kanan.
  • Dia menyeberang setelah ada satu KRL ekonomi yang lewat. Naasnya, ketika dia menyeberang, ada KRL ekspres yang melintas di jalur sebelah sehingga dia tertabrak.
  • Sepertinya KRL ekspres itu berasal dari arah St. Universitas Pancasila (arah Jakarta). Sehingga jika sang korban menyeberang dari sisi KRL yang menuju Bogor, maka pandangannya sedikit terhalang karena rel menuju Lt. Agung dari St. Univ. Pancasila sedikit menikung.

    Jadi, di lokasi yang memiliki cukup infrastruktur saja masih mudah untuk mengalami kecelakaan. Mungkin untuk orang Indonesia yang masih belum sadar ini, dalam kasus penyeberangan di stasiun harus dilengkapi dengan:

    1. Pagar zigzag sehingga para penyeberang tidak sembrono.
    2. Rambu peringatan terhadap penyeberang untuk berhati-hati (berhenti, tengok kiri-kanan). Jangan cuma ditempel di pagar di mana sang penyeberang berasal, tapi letakkan di seberangnya sehingga mudah terbaca.
    3. Informasi tentang rel mana saja yang akan dilintasi KA. Mirip dengan indikator nomor sepur di stasiun yang berkedip-kedip ketika akan dilewati KA. Tapi indikatornya harus berada pada posisi yang lebih strategis (indikator yang ada sekarang hanya bisa dilihat oleh orang2 yang berada di peron) dan lebih jelas terlihat (mungkin seperti indikator arah KA di perlintasan KA sebidang, yang sayangnya sekarang sudah banyak yang rusak). Jika hanya mengandalkan pengumuman dari petugas stasiun, penyeberang bisa salah informasi, karena bisa mengira bahwa hanya ada satu KA yang lewat, padahal mestinya ada dua KA yang lewat.

      Belum lagi jika peralatan perlintasan KA yang terganggu. Seperti pengakuan beberapa penjaga perlintasan yang dipanggil polisi karena kecelakaan KA, bahwa dirinya tidak mendengar adanya sinyal/lonceng bahwa KA akan lewat. Ini lebih repot, padahal banyak perlintasan yang terbatas pandangannya karena rel yang menikung.

      Analisis

      Masyarakat Indonesia masih trauma dengan masa penjajahan Belanda. Lho, hubungannya? Pembangunan jalur KA dirintis pada masa penjajahan Belanda untuk kepentingan mereka sendiri. Okelah ada beberapa KA yang bisa digunakan oleh bangsa pribumi, tapi fokus pelayanan KA tetap pada kepentingan bangsa kolonial.

      Nah, pembangunan jalur KA tersebut mungkin juga agak semena-mena. Lha wong yang bangun juga bangsa penjajah, mungkin unsur kesewenangan juga tidak lepas. Artinya, mungkin masyarakat menaruh dendam dari pembangunan jalur KA. Karena memotong lahan mereka tanpa izin, menyulitkan transportasi mereka (karena nggak bisa seenaknya nyeberang jalur rel). Plus sifat KA sendiri yang agak-agak egois, lebih memperhatikan diri sendiri. Sehingga angkutan KA mungkin sedikit mengabaikan aspek sosial dan lingkungan.

      Akibatnya hingga masa kini, masyarakat masih melihat bahwa KA merupakan angkutan yang angkuh dan tidak toleran terhadap masyarakat sekitar. Konsekuensinya, membuka perlintasan sebidang memotong rel untuk kepentingan masyarakat merupakan hak mereka, ketimbang kewajiban untuk menghormati KA sebagaimana diamanatkan UU.

      No responses yet

      Jan 15 2006

      Profile Image of ngalorngidul
      ngalorngidul

      Ideal brakelight design

      Filed under Safety

      European automobile design mostly designs separate brake and tail light. Maybe European tend to notice distinguished brake and tail light. Expensive model gives more powerful and noticeable brake light. While the cheaper one does not give noticeable differences.

      Japanese model usually integrate them but gives more powerful brake light to notice. It looks like that Asian are more notice to powerful light instead of separate light. Since there are no separation, it has large area of tail and brake light.

      American model integrates all back light, from tail, brake, and sign. You can see the example on Opel/Chevy Blazer model. The back light only consist of 3 bulbs of red, and 1 bulb of white. The 3 red bulbs serve as tail, brake, and sign. The white bulb serve as reverse light.

      I really like separate, large, and powerful brake light. I like the separation on European model. I like the large and powerful one on Japanese. While I admire the noticeable back light on American. But I do not like the integration of sign light, because it gives you false warning of red sign instead of yellow one.

      There is one Japanese model that suits my back light preference. It is Suzuki Baleno. Baleno is a Japanese model designed to enter European market. So it has some European characteristic (separate brake light) and the usual Japanese characteristic. Baleno has 3 rows of back light. First row is sign light. Second row serves as brake light. Third row serves as reverse light.

      Baleno’s brake light is designed with 3 column. The outer column (1 & 3) consist bulbs. While the middle column consist of reflector to sign the automobile existence when parked in the dark. The outermost column (1st column on left side, 3rd column on right side) serves as tail light with double bulb. The inner column (3rd column on left side, 1st column on right side) only lights when brake applied along with more noticeable tail light.

      Driving in the night, you see Baleno’s maximum width noticed on its tail light. When brake applied, you see maximum power of reddish light coming from two columns of back light. It really helps you when travels long distance in high speed. You can response quickly to front Baleno’s brake. It was based on my experience in tailing Baleno on Cikampek highway in 80-90 kmh.

      No responses yet

      Jan 14 2006

      Profile Image of ngalorngidul
      ngalorngidul

      Do you like to ride a Vespa?

      Filed under Driving, Vespa

      I used dad’s Vespa. He’s bought it through government soft loan. Back then in 1986 government were offering their officers for transportation. The choices are between minibuses and motorcycles. If you have more money and dignity, you probably choose the minibus. Especially when Indonesian still respect cars more than motorcycle.

      But if did not consider people’s respect, motorcycle would be enough. Especially when your wage is not that luxurious. Motorcycle features 2 stroke 150cc engine. When the design is Piaggio Vespa, you would have more luxury such as comfortable rain-riding since it has mud and splash guard.

      Most of dad’s colleagues in the contrary chose car. Although the car surely had more wheels, but it was just a pickup truck (mini dump truck as you might say). Maximum load capacity would not exceed from 3 people. Basically, there was only a small difference between offered car and motorcycle. But monthly payment surely differed much more. While the motorcycle’s monthly payment only cost IDR 16,000 for 3 years, car costs IDR 45,000–almost tripled.

      I like the power of 150cc. I like its weight which made me more careful when riding. I am dangerous rider on a regular motorcycle, like the popular underbone (aka bebek).

      No responses yet