May
25
2005

ngalorngidul
Ternyata tol Palikanci yang telah digunakan selama kurang lebih 4 tahun dibuka sebelum waktunya. Ketika pertama kali digunakan, kondisinya kurang layak disebut sebagai jalan tol. Karena berbagai perlengkapan jalan masih belum terpasang. Hanya perlengkapan primer seperti aspal mulus 4 lajur, gerbang tol, petunjuk arah, petunjuk kilometer, guard rail saja yang terpasang. Sedangkan marka jalan, reflektor di sisi kanan jalan belum terpasang. Padahal kedua perelngkapan ini sangat vital bagi pengemudi kendaraan di malam hari. Akibatnya beberapa tahun yang lalu, melintasi jalan tol seperti melintasi jalan raya yang hampir tanpa petunjuk batas jalan. Terutama karena marka dan reflektor yang kurang jelas menunjukkan batas jalan. Jika pengemudi lengah, maka tiang flyover bisa dengan mudah dilanggar karena tidak ada tanda yang menunjukkan bahwa pengemudi harus menghindari tiang itu.
Kini reflektor telah terpasang dengan lengkap berikut marka jalan yang jelas. Sehingga pengemudi dapat dengan mudah mengenali batas jalan dan rintangan jalan seperti tiang flyover maupun separator jalan tol berupa rumput. Dengan kondisi seperti ini, barulah tol Palikanci layak disebut sebagai jalan tol.
Sayangnya kemulusan jalan tol sepanjang kurang lebih 30 km antara Kanci-Plumbon tidak diikuti ruas terakhir tol antara Plumbon-Palimanan. Ruas ini dibangun menggunakan beton sehingga kurang mulus dibandingkan aspal. Mungkin ruas ini masih belum layak disebut sebagai jalan tol dan dibuka secara prematur. Karena mestinya ruas tersebut masih harus dilapisi aspal yang mulusnya lebih tahan lama karena beralaskan beton. Tidak seperti jalan sepanjang Pantura yang kemulusannya tidak bertahan lama karena cepat bergelombang atau bahkan berlubang atau rusak sama sekali.
May
04
2005

ngalorngidul
Di suatu sore, di jalanan Jakarta yang macet, kendaraan berjalan merambat. Motor mencoba mencari celah jalan yang kosong. Angkutan umum yang berhenti mendadak, kadang menutup jalan, menghalang laju motor yang mencari celah kosong. Mau tidak mau, bukan hanya pengemudi harus menjalankan kendaraan pelan-pelan, tapi juga harus sigap setiap saat agar terhindar dari kecelakaan. Hingga pada suatu saat, gue mengerem laju vespa dan harus berhenti karena terhalang angkutan umum, dan … brak!!! Dari belakang seorang wanita yang mengendarai motor bebek hanya bisa tersenyum kecut karena merasa bersalah telah menabrak kendaraan di depannya. Dari suaranya, gue cuma bisa memperkirakan bahwa something has broken. Cari bagian jalan yang leluasa untuk minggir dan melihat kondisi akibat tabrakan. Well … lagi-lagi ditabrak dari belakang membuat lampu sen kiri Vespa Excel jadi bolong sedikit. It’s just another cycle …
Ditabrak dari belakang oleh motor Honda Tiger saat hujan dan macet hingga bemper belakang pecah. Berikutnya saat kecepatan sedang ditabrak dari belakang hingga menyentuh bemper belakang oleh sebuah motor bebek, sampai terdorong. Lalu mengerem Vespa Stradaku untuk memberi jalan pada pejalan kaki hingga dari belakang ada motor bebek yang terguling karena menabrak lampu belakang hingga pecah dan menjebolkan jok belakang. Karena kerusakan cukup parah, terpaksa jok dan lampu belakang harus diganti. Belum usai, di malam hari di jalan yang kosong di depan Kenari Plaza, saat menghindari bus yang berhenti di letter S, dan sebuah RX-King yang memotong jalan, dari belakang ada sekelompok remaja bermotor bebek dua tak yang kelihatannya sedang menikmati jalan kosong dan tak sempat mengerem. Akibatnya Vespa Stradaku ringsek total dan tidak bisa dibawa pulang.
Perlukah gue meminta ganti rugi yang sepadan kepada sang penabrak? Dari kecelakaan atau tabrakan (baca: ditabrak) yang dialami, hanya kejadian dengan motor Tiger saja yang menghasilkan ganti rugi sepadan. Pengendara Tiger mengganti bemper senilai Rp 20 ribu yang memang sepadan dengan harga bemper belakang Excel. Sisanya, gue cuma bisa melongo. Bahkan terakhir sang penabrak Vespa Strada hingga ringsek tidak mau mengganti rugi Rp 1 juta. Karena perbaikan Vespa Strada itu toh akhirnya menghabiskan dana Rp 1,2 juta. Apalagi ‘cuma’ menghasilkan mika lampu sein yang bolong, kecil lagi.