Oct 04 2009
Komunikasi Darurat Bencana
Rasanya seperti baru kemarin saya mengomentari tragedi gempa Yogya 2006. Begitu dekatnya saya dengan Yogya pada saat kejadian membuat saya terpikir dan lebih mudah membayangkan akan kondisi kekacauan pada saat bencana terjadi. Apalagi gempa bumi bukanlah bencana yang terjadi satu kali. Sekali terjadi gempa, maka akan terjadi gempa susulan hingga alam menemukan ketenangannya kembali.
Kali ini saya begitu jauh dengan lokasi gempa Padang 2009. Meski tidak sampai sebulan sebelumnya Jakarta juga turut diguncang gempa pantai selatan Jawa Barat. Goncangan gempa yang saya rasakan di Jakarta tidaklah begitu hebat. Entah karena bangunan kantor yang saya tempati begitu kokoh atau sebab yang lain. Begitu juga ketika gempa Padang bergetar. Saya hanya sekedar mengecek situs USGS untuk melihat kekuatan gempa yang tercatat oleh sensor mereka. Sebagaimana lazimnya yang saya lakukan begitu mendengar adanya gempa di wilayah Indonesia. Suatu hal yang menjadi salah satu rutinitas pasca tragedi tsunami Aceh 2004.
Data USGS tidak menunjukkan sesuatu yang hebat, ‘hanya’ sebuah gempa yang berkekuatan di bawah 8 SR. Skala kekuatan gempa sendiri tidaklah sesuatu yang baku. Angka yang ditunjukkan oleh skala yang satu dengan skala yang lainnya tidak harus sama persis. Sulit bagi orang awam seperti saya untuk memahami berapa kekuatan sebenarnya dari gempa tersebut bagi masyarakat di lokasi gempa. Saya coba mengintip situs Pakde Rovicky untuk melihat apakah beliau sudah mengulas tentang gempa mutakhir ini. Ulasan pakde Rovicky biasanya mengindikasikan tentang sesuatu yang serius. Namun pakde Rovicky yang fisiknya tidak jarang berada di luar negeri tentu tidak secepat teve swasta memberitakan tentang gempa mutakhir. Biasanya butuh beberapa jam hingga beberapa hari sebelum pakde Rovicky menambah tulisan blognya.
Facebook sebagai salah satu media komunikasi alternatif pun tidak menunjukkan keseriusan gempa Padang selain ucapan duka cita yang cenderung basa basi. Begitupun Twitter yang seperti biasanya mudah dibanjiri komentar tentang berita aktual dari pengguna Indonesia. Gempa Padang hanyalah menjadi tren sesaat yang muncul ke seluruh dunia. Barangkali tidak ada bedanya dengan keseriusan komentar iseng sutradara Joko Anwar tentang niatnya untuk bertelanjang di sebuah kedai kecil bermerek asing. Sama-sama naik popularitasnya menjadi tren yang paling dibicarakan di Twitter.
Namun beberapa jam kemudian pakde Rovicky sudah menambah tulisannya untuk menanggapi gempa Padang. Berita Detikcom hanya melansir beberapa informasi seperti kondisi terakhir Padang yang belum diketahui, sementara sang gubernur provinsi Sumatera Barat kebetulan sedang berada di Jakarta. Pakde Rovicky menegaskan dalam tulisannya bahwa kita tidak perlu menunggu berita dari Padang sampai di telinga kita. Cukup dengan mengetahui besarnya gempa dari skala Mercantile (MMI), seharusnya kita sudah bisa menduga seberapa hebat gempa yang dirasakan. Skala Mercantile merupakan pengukuran kekuatan gempa berdasarkan efek yang dirasakan orang. USGS biasanya menyediakan fasilitas bagi setiap pengunjung untuk memberikan masukan tentang gempa yang dirasakan, dengan beberapa patokan pengukuran dan lokasi. Misalnya apakah kita merasakan gempa ini dengan melihat perabotan besar di ruangan yang sampai bergeser hingga roboh, ataukah hanya sekedar melihat lampu gantung yang bergoyang, atau foto dinding yang bergeser miring. Sekecil apapun efek gempa yang dirasakan dan informasi lokasinya, bisa diprediksi seberapa hebatnya gempa yang terasa di lokasi dekat episentrum. Jadi tidak perlu menunggu informasi dari orang-orang di dekat episentrum.
Informasi lebih awal menjadi penting karena berapapun canggihnya teknologi komunikasi yang kita gunakan toh akhirnya akan lumpuh pada saat bencana. Kelumpuhan komunikasi yang pernah terjadi saat bencana tsunami Aceh 2004 pun terulang di gempa Padang 2009 ini. Bisa disimpulkan bahwa komunikasi di Padang lumpuh total. Teknologi telepon seluler dan jangkauannya yang semakin luas hingga pelosok tidak bisa menahan lumpuhnya komunikasi. Bukan hanya infrastruktur komunikasi yang lumpuh, tapi yang lebih penting adalah pasokan listrik. Boleh saja gempa tidak merobohkan menara BTS telepon seluler, namun jika pasokan listrik mati total, maka komunikasi pun sulit dilakukan. Atau mungkin hanya cukup peralatan vital di BTS yang mengalami kegagalan fungsi meski pasokan daya masih bisa dicatu dari baterai yang tersedia. Terbukti hampir semua operator seluler yang hadir di kota Padang lumpuh. Belakangan diberitakan bahwa sinyal XL masih bisa dipakai, namun untuk ukuran kota Padang yang sudah jauh dari ibukota Indonesia, operator ponsel andalan hanyalah Telkomsel dan mungkin Indosat sebagai pilihan kedua.
Artinya diperlukan teknologi handal di saat bencana guna keperluan komunikasi darurat. Setelah bencana tsunami Aceh 2009, BRR sebagai institusi yang mengkoordinasikan pembangunan kembali Aceh yang luluh lantak akibat bencana telah berinisiatif membangun komunikasi darurat hingga pelosok guna pencegahan bencana dan korban jiwa. Tentu saja teknologi seluler agak sulit diandalkan berdasarkan pengalaman dan fakta yang telah terjadi. Komunikasi radio yang hadir lebih lama pun masih sulit diimplementasikan karena keterbatasan fitur teknologinya. Apalagi pulau Sumatera bukanlah wilayah yang padat penduduk seperti pulau Jawa yang penduduknya terkonsentrasi pada lokasi-lokasi tertentu. Penduduk Sumatera tentu lebih menyebar hingga pelosok yang makin mempersulit atau memperumit penentuan simpul komunikasi. Padahal simpul komunikasi merupakan kunci dalam komunikasi yang efektif. Karena tidak ada satupun teknologi komunikasi yang mampu menjangkau setiap individu secara efektif.
Sudahkah terpikirkah kita akan komunikasi yang handal di saat bencana?
You should easy to see we have new taxi sedan in town. Please focus your search on the dark green Taxi of Gamya. Besides their fleet of Toyota Limo (Vios sibling) or old Toyota Soluna just like other company would prefer, they also chose Nissan Sunny Neo. So what is special about them?