Oct 04 2009

ngalorngidul

Komunikasi Darurat Bencana

Filed under Safety, Technology

Rasanya seperti baru kemarin saya mengomentari tragedi gempa Yogya 2006. Begitu dekatnya saya dengan Yogya pada saat kejadian membuat saya terpikir dan lebih mudah membayangkan akan kondisi kekacauan pada saat bencana terjadi. Apalagi gempa bumi bukanlah bencana yang terjadi satu kali. Sekali terjadi gempa, maka akan terjadi gempa susulan hingga alam menemukan ketenangannya kembali.

Kali ini saya begitu jauh dengan lokasi gempa Padang 2009. Meski tidak sampai sebulan sebelumnya Jakarta juga turut diguncang gempa pantai selatan Jawa Barat. Goncangan gempa yang saya rasakan di Jakarta tidaklah begitu hebat. Entah karena bangunan kantor yang saya tempati begitu kokoh atau sebab yang lain. Begitu juga ketika gempa Padang bergetar. Saya hanya sekedar mengecek situs USGS untuk melihat kekuatan gempa yang tercatat oleh sensor mereka. Sebagaimana lazimnya yang saya lakukan begitu mendengar adanya gempa di wilayah Indonesia. Suatu hal yang menjadi salah satu rutinitas pasca tragedi tsunami Aceh 2004.

Data USGS tidak menunjukkan sesuatu yang hebat, ‘hanya’ sebuah gempa yang berkekuatan di bawah 8 SR. Skala kekuatan gempa sendiri tidaklah sesuatu yang baku. Angka yang ditunjukkan oleh skala yang satu dengan skala yang lainnya tidak harus sama persis. Sulit bagi orang awam seperti saya untuk memahami berapa kekuatan sebenarnya dari gempa tersebut bagi masyarakat di lokasi gempa. Saya coba mengintip situs Pakde Rovicky untuk melihat apakah beliau sudah mengulas tentang gempa mutakhir ini. Ulasan pakde Rovicky biasanya mengindikasikan tentang sesuatu yang serius. Namun pakde Rovicky yang fisiknya tidak jarang berada di luar negeri tentu tidak secepat teve swasta memberitakan tentang gempa mutakhir. Biasanya butuh beberapa jam hingga beberapa hari sebelum pakde Rovicky menambah tulisan blognya.

Facebook sebagai salah satu media komunikasi alternatif pun tidak menunjukkan keseriusan gempa Padang selain ucapan duka cita yang cenderung basa basi. Begitupun Twitter yang seperti biasanya mudah dibanjiri komentar tentang berita aktual dari pengguna Indonesia. Gempa Padang hanyalah menjadi tren sesaat yang muncul ke seluruh dunia. Barangkali tidak ada bedanya dengan keseriusan komentar iseng sutradara Joko Anwar tentang niatnya untuk bertelanjang di sebuah kedai kecil bermerek asing. Sama-sama naik popularitasnya menjadi tren yang paling dibicarakan di Twitter.

Namun beberapa jam kemudian pakde Rovicky sudah menambah tulisannya untuk menanggapi gempa Padang. Berita Detikcom hanya melansir beberapa informasi seperti kondisi terakhir Padang yang belum diketahui, sementara sang gubernur provinsi Sumatera Barat kebetulan sedang berada di Jakarta. Pakde Rovicky menegaskan dalam tulisannya bahwa kita tidak perlu menunggu berita dari Padang sampai di telinga kita. Cukup dengan mengetahui besarnya gempa dari skala Mercantile (MMI), seharusnya kita sudah bisa menduga seberapa hebat gempa yang dirasakan. Skala Mercantile merupakan pengukuran kekuatan gempa berdasarkan efek yang dirasakan orang. USGS biasanya menyediakan fasilitas bagi setiap pengunjung untuk memberikan masukan tentang gempa yang dirasakan, dengan beberapa patokan pengukuran dan lokasi. Misalnya apakah kita merasakan gempa ini dengan melihat perabotan besar di ruangan yang sampai bergeser hingga roboh, ataukah hanya sekedar melihat lampu gantung yang bergoyang, atau foto dinding yang bergeser miring. Sekecil apapun efek gempa yang dirasakan dan informasi lokasinya, bisa diprediksi seberapa hebatnya gempa yang terasa di lokasi dekat episentrum. Jadi tidak perlu menunggu informasi dari orang-orang di dekat episentrum.

Informasi lebih awal menjadi penting karena berapapun canggihnya teknologi komunikasi yang kita gunakan toh akhirnya akan lumpuh pada saat bencana. Kelumpuhan komunikasi yang pernah terjadi saat bencana tsunami Aceh 2004 pun terulang di gempa Padang 2009 ini. Bisa disimpulkan bahwa komunikasi di Padang lumpuh total. Teknologi telepon seluler dan jangkauannya yang semakin luas hingga pelosok tidak bisa menahan lumpuhnya komunikasi. Bukan hanya infrastruktur komunikasi yang lumpuh, tapi yang lebih penting adalah pasokan listrik. Boleh saja gempa tidak merobohkan menara BTS telepon seluler, namun jika pasokan listrik mati total, maka komunikasi pun sulit dilakukan. Atau mungkin hanya cukup peralatan vital di BTS yang mengalami kegagalan fungsi meski pasokan daya masih bisa dicatu dari baterai yang tersedia. Terbukti hampir semua operator seluler yang hadir di kota Padang lumpuh. Belakangan diberitakan bahwa sinyal XL masih bisa dipakai, namun untuk ukuran kota Padang yang sudah jauh dari ibukota Indonesia, operator ponsel andalan hanyalah Telkomsel dan mungkin Indosat sebagai pilihan kedua.

Artinya diperlukan teknologi handal di saat bencana guna keperluan komunikasi darurat. Setelah bencana tsunami Aceh 2009, BRR sebagai institusi yang mengkoordinasikan pembangunan kembali Aceh yang luluh lantak akibat bencana telah berinisiatif membangun komunikasi darurat hingga pelosok guna pencegahan bencana dan korban jiwa. Tentu saja teknologi seluler agak sulit diandalkan berdasarkan pengalaman dan fakta yang telah terjadi. Komunikasi radio yang  hadir lebih lama pun masih sulit diimplementasikan karena keterbatasan fitur teknologinya. Apalagi pulau Sumatera bukanlah wilayah yang padat penduduk seperti pulau Jawa yang penduduknya terkonsentrasi pada lokasi-lokasi tertentu. Penduduk Sumatera tentu lebih menyebar hingga pelosok yang makin mempersulit atau memperumit penentuan simpul komunikasi. Padahal simpul komunikasi merupakan kunci dalam komunikasi yang efektif. Karena tidak ada satupun teknologi komunikasi yang mampu menjangkau setiap individu secara efektif.

Sudahkah terpikirkah kita akan komunikasi yang handal di saat bencana?

No responses yet

Aug 31 2009

ngalorngidul

Tiket Mudik Anti Ngantri

Filed under Travel

Pagi ini dengan kaos kutang, sarung, ketek kecut, mencoba men-dial 13897 dari hape berkartu xl. tumben jam 8 tadi kok bisa nyambung suara kresek pol. minggu lalu saya gagal dial. sementara waktu saya cek di travel, udah sisa 1 TD gajayana untuk tgl 13sep2009. karena kresek2, saya agak tulalit, tapi ada suara di seberang sana:

suara lembut (sl): “ada yang bisa saya bantu?”
saya (sy): “mau pesan tiket kereta mbak.”

sl: “dari mana ke mana?”
sy: “gajayana lebaran masih ada mbak? jakarta ke malang?”

sl: “tanggal berapa?”
sy: “tanggal 15 september atau 16 september gitu?”

sl: “sebentar saya cek dulu”
…. kresek kresek kresek … kemresek terus …

sl: “gajayana lebaran 15 september masih ada.”
sy: “yang 16 september?”

sl: “masih ada 130 TD.”
sy: “pesan 2 kalo gitu, mbak.”

sl: “bapak sudah pernah pesan di sini?”
sy: “belum.”

sl: “atas nama bapak siapa?”

… dipotong biar ringkas …

sy: “ok. saya juga bisa pesan untuk balik dari malang ke jakarta?”
sl: “bisa pak.”

sy: “kalo tanggal 26 september masih ada?”
sl: “masih pak. gajayana lebaran.”

sy: “kalo gitu saya pesan juga 2 tiket.”

dst … terputus … pulsa habis. wekksss …. habis 20 ribu buat pesen 2 tiket pp.

sy: “halo mbak saya tadi pesan a/n … mau konfirmasi”
sl: “iya pak konfirmasi apa?”

sy: “untuk tgl 26 september itu seatnya di mana?”
… s/d selesai

Kesimpulan

  • asik dapet tiket. asyik gajayana lebaran berangkat agak siang balapan ama matarmaja? gajayana lebaran gak start dari jakk? katanya musti dari gambir. gak bisa luntang-lantung dulu leluasa di jakk dong.
  • biarpun biaya beli tiket lebih murah ketimbang di travel yg +30 ribu anter sampe tempat. tapi ada ongkos tilpun pake hape habis 20 ribu. mungkin pulsa bervariasi tergantung operator yg dipake.
  • kemeresek thok suaranya. sinyalnya musti mengelewati banyak sepur?
  • hik hik hik … naik sepur setengah juta.
  • bingung bawa bekal makan malam apa. biasanya nyante siap2 ngelahap ransum seadanya.
  • info dari sedulur, tiket lebaran cukup ditebus dengan tarif 300 ribu ++ saja alias di bawah 400 ribu, katanya ditawari pak pos yang ngantornya dekat rumah sang dulur.

Comments Off

Feb 06 2007

ngalorngidul

Kebersamaan antar Pengendara Motor Non-Bebek

Filed under Driving, Safety, Vespa

Beberapa bulan belakangan ini saya baru mulai mengikuti pola masyarakat komuter kebanyakan. Sebelumnya saya mencoba menjadi anomali dari masyarakat komuter dengan (minimal) waktu berangkat kantor yang lebih siang, dan jika mungkin waktu pulang yang lebih malam. Seperti yang telah saya praktekkan sejak tahun 2003 semenjak pulang dari Malang.

Awalnya saya enggan untuk mengikuti pola komuter yang normal, yakni berangkat dan pulang kantor pada waktu puncak. Waktu puncak pagi hari terjadi antara pukul 06.00-08.30 WIB. Sedangkan waktu puncak di sore hari terjadi antara pukul 17.00-18.30 WIB. Demi menghindari rentang waktu tersebut, saya memilih untuk berangkat dari rumah setelah pukul 08.30 WIB dan keluar dari kantor setelah pukul 18.30 WIB. Sehingga saya jarang sekali mendapatkan kemacetan yang sangat parah dalam perjalanan sehari-hari.

Ketika saya berkantor dengan rekan-rekan kampus, saya memilih untuk berangkat lebih siang dengan pertimbangan produktivitas yang lebih baik karena tidak stres akibat kemacetan di jalan. Sedangkan waktu pulang yang lebih malam juga lebih baik karena bisa menangkap banyak ide dan ilham tentang pekerjaan agar lebih kreatif.

Begitu pula ketika saya melanjutkan kuliah. Saya memilih waktu kuliah malam hari dengan pertimbangan saya akan lebih tepat waktu dan tidak terlambat karena ketiduran misalnya. Apalagi lalu lintas di malam hari sepulang dari kuliah tentunya lebih lancar dan tidak membuat stres.

Namun kali ini saya tidak bisa menghindar lagi. Semenjak pihak manajemen kantor mulai menyadari kebiasaan saya untuk tiba di kantor tidak tepat waktu dan sesuai dengan jadwal yang mereka tentukan, saya harus mengikuti pola komuter. Berangkat dari rumah paling lambat pukul 08.00 WIB. Sedangkan pulang dari kantor masih tidak berubah jauh. Namun satu perubahan waktu keberangkatan saja sudah membuat stres lebih banyak. Utamanya karena kepadatan lalu lintas, terlalu banyak kendaraan di jalan raya dan terlalu banyak pengendara motor. Hingga saya sendiri sebagai pengendara motor ternyata sangat terganggu dengan pengendara motor lainnya.

Setelah saya perhatikan, ternyata saya seringkali terganggu dengan ulah pengendara motor bebek yang seenaknya. Tentu saja hal itu sangat ditunjang dari segi fisik motor yang ramping sehingga memudahkan pengendaranya untuk melakukan manuver apapun di jalan raya, apapun kondisinya. Apalagi pola mesin 4-tak tanpa kopling yang tentunya berbeda dengan gaya berkendara saya dengan skuter 2-tak berkopling. Hal yang paling mengesalkan dari pengendara bebek adalah:

Tidak mau menjaga jarak dengan kendaraan di depannya

Mereka ingin segala celah yang ada di jalan raya dengan pengedara di depannya (terutama motor) dimanfaatkan. Meskipun sering juga hal ini mengakibatkan benturan dengan kendaraan di depannya (hey, ini sudah konsekuensi … sejak kapan resiko benturan menjadi sangat kecil ketika semua orang ingin berdekatan?). Perhatikan saja bentuk spatbor belakang yang seringkali tidak mulus dan tidak utuh, bahkan terdapat bekas benturan yang diperkuat dengan bentuk pola ban. Begitu mengganggunya sampai-sampai mereka selalu menekan klakson ketika mereka menyadari bahwa pengendara motor di depannya menjaga jarak terlalu lebar. Bahkan mereka juga tidak peduli dengan pengguna angkutan umum yang butuh naik turun kendaraan.

Seenaknya menyalip kendaraan

Bukan sekedar menyalip kendaraan roda empat atau lebih yang memang perlu dilewati, tetapi juga sesama kendaraan roda dua. Mereka jarang memperhatikan jarak aman untuk menyalip sehingga sangat mengkhawatirkan pengendara lain (terutama roda empat/lebih). Bahkan jari kiri saya sempat terjepit oleh setang dari pengendara bebek yang mencoba menyalip dari sebelah kiri. Sehingga dalam hati saya (mencoba) mengumpat, “Otak seperti apa yang bisa membuat dia berpikir bahwa celah sesempit itu bisa dilewati? Bahkan sampai membuat orang lain terjepit dan kesakitan.” Saya tidak habis pikir dengan tindakan pengendara tersebut. Seburuk-buruknya kondisi untuk mendahului, kenapa pula harus memilih resiko yang paling tinggi, yakni celaka? Jika saya seorang pengendara yang agresif, mungkin pengendara itu sudah saya tendang sebagai balasan atas aksi gilanya. Saya mungkin tidak mau ambil pusing apakah dia akan celaka parah atau tidak. Yang penting dia sudah mengganggu saya, jadi reaksi tendangan saya rasa cukup wajar.

Seenaknya menyerobot

Dengan fisik motor yang ramping dan mudah dikendarai, pengendara bebek menjadi terlalu lincah sehingga menyerobot celah apapun yang mereka lihat. Tentu saja masalah utama dari menyerobot adalah mereka tidak memperhitungkan reaksi dari pengendara  lain. Dengan kata lain, aksi serobot mereka memaksa pengendara lain lebih stres karena harus bertoleransi kepada mereka. Baiknya memang kita punya satu kendaraan yang tidak sayang untuk terkena benturan untuk melawan aksi serobot ini. Bukan hanya lampu sein yang tidak pernah digunakan untuk berpindah lajur, atau melihat kondisi sekitarnya dulu sebelum mengambil lajur, tapi langsung slonong sana slonong sini. Seringkali saya lihat jarak motor penyerobot yang sangat dekat dengan bemper mobil. Betapa sengsaranya sang pengendara mobil jika sang penyerobot ceroboh dalam berpindah lajur dan tertabrak (dalam hal ini analoginya seperti pengendara mobil yang mencoba menyerobot KA). Jadi tabrakan dan benturan yang terjadi bukanlah karena sang pengendara mobil terlambat bereaksi.

Bandingkan dengan pernyataan seorang petugas polisi di satuan Kecelakaan Lalu Lintas Lap. Banteng,

“Jika dua pengendara sama sekali tidak melanggar aturan lalu lintas, maka tidak mungkin terjadi kecelakaan.”
Teori yang aneh, karena pelanggaran aturan lalu lintas dari satu pihak saja sudah cukup membuat kecelakaan. Apakah seorang masinis harus mengerem dan menjalankan KA perlahan pada kecepatan berhenti (di bawah 5kmj?) demi menyelamatkan seorang pengendara motor ceroboh yang rela melanggar pintu perlintasan KA?

Sedangkan ‘norma’ yang diadopsi oleh masyarakat Indonesia (terutama kawasan kota besar seperti Jabotabek) adalah kendaraan yang lebih besar memiliki kesalahan lebih besar. Jadi penyerobot yang ceroboh dan membuat kendaraannya tertabrak mobil yang sedang melaju secara hati-hati, adalah kesalahan sang pengendara mobil yang tidak mau mengerem untuk memberi jalan pada pengendara motor. Sejak kapan pencuri yang sedang beraksi diberi keleluasaan?

Dengan karakteristik pengendara motor bebek seperti ini, tidak heran jika di jalan raya saya sering beriringan dengan kendaraan non-bebek lain, seperti Honda Mega Pro, Honda Tiger, Yamaha RX-King, dan Yamaha Scorpio. Bahkan saya sama sekali tidak merasa Yamaha RX-King yang dikenal sebagai raja jalanan sebagai ancaman. Meskipun saya pernah tertabrak dari belakang di malah mari oleh seorang pengedara RX-King tanpa lampu. Ada beberapa pola dari kendaraan non-bebek yang saya anggap bukan ancaman ini seperti kapasitas mesin yang lebih besar dari bebek, serta penggunaan kopling. Tampaknya dua spesifikasi motor ini membuat pengendaranya lebih defensif, membatasi diri akan kecepatan, dan lebih tenang. Mungkin juga karena kapasitas mesin besar membuat mereka juga lebih percaya diri dalam berakselerasi. Sehingga mereka tidak perlu terburu-buru dalam melakukan akselerasi untuk mencapai kecepatan tinggi. Toh spesifikasi motor yang lebih tinggi membuat mereka lebih unggul.

Berbeda dengan motor bebek yang rata-rata berkapasitas mesin di bawah 125cc dan sistem tanpa kopling. Barangkali untuk mencapai laju yang sama dengan motor-motor non-bebek di atas, mereka harus lebih agresif. Apapun latar belakangnya, tidak ada alasan yang bisa membuat pengendara bebek berlaku tidak sopan, agresif di jalan raya. Komentar akhir saya mungkin, “Mereka memang belum pernah merasakan  nikmatnya makan lokomotif.”

No responses yet

Feb 06 2007

ngalorngidul

Banjir Jakarta 2007

Filed under Uncategorized

Sudah jelas bahwa bencana memang tidak pernah diperhitungkan oleh masyarakat Indonesia. Semua manajemen bencana dianggap sebagai suatu kemewahan yang hanya menghamburkan biaya tanpa manfaat yang jelas. Kerugian jelas tidak sedikit. Belum lagi ketidaknyamanan yang disebabkannya.

Banjir Jakarta bukan hanya mempengaruhi kota Jakarta secara umum. Tapi juga berdampak pada kota-kota satelitnya. Bekasi dan Tangerang sebagai satelit Jakarta di arah timur dan barat pastinya tidak luput dari banjir. Sedangkan satelit di selatan Jakarta, yakni Depok dan Bogor yang biasanya berstatus sebagai ‘carrier’ banjir, saat ini juga mengalami dampak yang cukup mengganggu.

Ketika curah hujan turun cukup tinggi di wilayah Bogor dan bagian hulu sungai, sebagian kawasan Bogor sudah merasakan dampaknya lebih dulu. Genangan air sudah mulai menyambangi kota ini. Sementara Depok yang biasanya hanya menjadi salah satu tempat pemantauan ketinggian sungai Ciliwung untuk mengukur apakah Jakarta akan dilanda banjir atau tidak, kali ini pun kebagian genangan air. Curah hujan tinggi yang tidak diimbangi dengan kemampuan saluran pembuangan, menghasilkan genangan yang mengganggu kenyamanan pemukiman dan jalan raya. Tapi yang lebih penting lagi adalah sumbangan sampah dari aliran sungai Ciliwung yang menghentikan operasional PDAM.

Memang berhentinya air PAM ke pelanggan bukanlah sesuatu hal yang cukup prioritas. Namun setidaknya hal tersebut memberikan gambaran bahwa warga Indonesia sepertinya memang tidak bisa mengandalkan layanan infrastruktur. Sepertinya terlalu banyak bencana yang harus dihadapi, sehingga kalaupun memang ada pengelolaan bencana, rasanya tidak akan mencakup keseluruhan. Dengan kata lain, warga Indonesia memang harus siap menghadapi bencana.

Menurut surat edaran PDAM dijelaskan bahwa berhentinya operasional PDAM Depok diakibatkan oleh lumpur, genangan air, dan sampah yang menghalangi kerja pompa. Sudah tentu posisi pompa diperhitungkan sedemikian rupa sehingga tidak mudah terganggu. Tapi dengan bencana, semua perhitungan manusia hanya tinggal di atas kertas. Kenyataannya akan jauh lebih buruk yang diperhitungkan.

Belum lagi kita bicara soal infrastruktur telekomunikasi yang sebenarnya tidak terkena imbas langsung dari bencana banjir. Tapi nyatanya STO Semanggi di Jalan Gatot Subroto Jakarta berstatus mati gara2 pemadaman listrik akibat banjir yang mengganggu komunikasi telepon se-Jakarta. Kita bicara soal Jakarta yang merupakan ibukota negara, pusat bisnis, pusat perputaran uang di Indonesia, pusat pembangunan, infrastruktur terbaik, tapi nyatanya bencana membalikkan itu semua. Tidak ada infrastruktur yang cukup baik untuk melawan bencana.

Akankah kita masih mengernyitkan dahi ketika bicara tentang fasilitas Disaster Recovery Center yang dibangun di Kalimantan? Akankah kita masih bertanya-tanya mengapa begitu jauh kita menempatkan fasilitas canggih semacam itu? Tidak cukupkah pulau Jawa sebagai lokasi yang dianggap aman?

Tidak dibantah lagi, Indonesia memang kaya sumber daya alam, yang mencakup sekaligus potensi bencana alam. Tinggal pilih, gempa bumi yang memang berlangsung teratur sebagai bagian dari aktivitas tetap kerak bumi, faktor alam yang tidak bersahabat sebagai bagian dari gejala global, dan mungkin disempurnakan dengan perencanaan yang buruk. Tentu saja tidak ada perencanaan yang sempurna, tapi memang kita barangkali lebih senang agar Tuhan saja yang merencanakannya.

Fakta-fakta:

No responses yet

Jul 09 2006

ngalorngidul

Coolest Taxi in Town

Filed under Driving, Travel

You should easy to see we have new taxi sedan in town. Please focus your search on the dark green Taxi of Gamya. Besides their fleet of Toyota Limo (Vios sibling) or old Toyota Soluna just like other company would prefer, they also chose Nissan Sunny Neo. So what is special about them?

There is one thing actually. Nissan Sunny Neo, IMHO, supposed to be a middle class sedan compared to a low/entry level class sedan of Toyota Vios. Nissan have larger dimension, more spacious, and the most important thing is they have a luxury tyre.

A luxury 15″ alloy wheel each equipped with a Michelin 195/60/15. A kind of tyre you think would find on European imported car such as new Volvo of S40 or Audi A6 as a standard feature. I haven’t tried to use that taxi. But in Jakarta’s traffic, it was pleasant to see a taxi with a luxury specification. Even the luxurious taxi in Jakarta of Silver Bird fleet would have such luxury anymore. They have changed from a 1994 ex-Non-Aligned Movement (NAM) conference’s Nissan Cedric for 2nd class delegation to a new version of Nissan Cedric with down-spec and smaller tires.

No responses yet

Jul 09 2006

ngalorngidul

Mari Lestarikan ‘Budaya’ Indonesia

Filed under Driving, Safety

Beredar di berbagai mailing list Indonesia, sayangnya tanpa identitas penulis. Penulis asli silakan mengklaim tulisan Anda ini.

Perilaku manusia, baik di rumah, di tempat kerja, di pergaulan, atau ketika berada di tempat umum seperti di jalan, adalah cerminan budaya yang dianutnya. Berikut adalah budaya berkendara orang Indonesia yang dapat kita amati bersama di jalan:

  1. Marka dan garis-garis di jalan adalah karya seni anak jalanan yang suka iseng membuat grafiti. Maka jejakkanlah ban anda di atasnya sebagai tanda bahwa anda seorang pengagum seni sejati.
  2. Tanda sudah boleh jalan di persimpangan berlampu merah adalah bunyi klakson dari kendaraan di belakang anda, atau berhentinya kendaraan dari arah lain, atau berjalanya kendaraan yang searah dengan anda. Lampu merah tidak bisa dipercaya karena sering sekali salah. Atau anda seorang buta warna sehingga lebih baik percaya kepada orang lain yang matanya normal untuk melihat dan "memberitahukannya" kepada anda.
  3. Zebra cross bukanlah tempat menyeberang, melainkan garis-garis sejajar yang dibuat sebagai panduan anda menghentikan kendaraan di atasnya sembari menunggu lampu merah.
  4. Lampu sein harus dinyalakan sebagai tanda bahwa anda TELAH berbelok.
  5. Kampas rem harganya sangat mahal dan harus dihemat. Cara paling ekonomis dan paling mudah ketika menemukan rintangan di jalan seperti orang menyeberang, kendaraan berhenti, kendaraan berbelok, orang turun dari kendaraan umum, batu, lobang, dll, adalah dengan sedapat mungkin melakukan manuver tanpa menginjak rem sama sekali.
  6. Tidak ada standar bahwa lampu sein harus berwarna kuning, maka tunjukkanlah kreatifitas anda. Gantilah lampu sein anda dengan warna favorit kesukaan, bisa merah, biru, putih, hijau, ungu, atau bahkan hitam kelam. Bahkan menukar lampu sein dengan lampu mundur dan sebaliknya adalah gaya yang sedang "in" untuk ditiru.
  7. Kalau pengendara di depan anda masih belum memicingkan matanya berarti anda harus mengganti lampu depan anda dengan yang lebih terang dan lebih tinggi watt-nya. Atau ada kemungkinan sudut lampu anda terlalu rendah, segeralah setel seperlunya.
  8. Pria yang bunyi klakson kendaraannya pelan adalah seorang banci, demikian juga yang memencet klaksonnya secara halus. Maka tunjukkan kejantanan anda dengan menggantinya dengan yang bersuara lebih besar, dan tekanlah klakson tersebut keras-keras setiap ada kesempatan.
  9. Anda tahu bahwa anda berada dalam jarak teraman dengan kendaraan di depan atau di samping anda ketika anda belum mendengar bunyi tumbukan, atau gesekan.
  10. Semua rambu-rambu lalu lintas hanya berlaku untuk pengendara roda empat karena mereka badannya besar dan membahayakan pengendara lain apabila tidak mengindahkan.
  11. Rambu-rambu tersebut hanya berlaku paling lama sampai jam 12 malam.
  12. Jalan raya dirancang oleh para ahli yang sangat pandai memperhitungkan dan merencanakan kapasitas dan ruang jarak antar kendaraan. Maka setiap celah, seberapapun kecilnya adalah anugerah yang merupakan hak anda. Bahkan ketika sudah tidak ada celah pun, anda boleh manfaatkan tanah, rumput atau trotoar yang ada di pinggirnya. Sekali lagi, tunjukkan kreatifitas anda dalam menciptakan ruang anda sendiri.
  13. Pencolong, pencopet, perampok, koruptor adalah pencuri yang harus dihukum. Namun pengendara yang mengambil hak jalan orang lain di lampu merah bukanlah pencuri, melainkan seorang oportunis yang patut ditiru kepandaian dan kelihaiannya.
  14. Ketika berkendara malam hari di jalan dua arah yang sempit dan pas-pasan lebarnya, nyalakanlah lampu jauh anda (dim) TEPAT ketika hendak berpapasan dengan kendaraan dari arah berlawanan. Semakin lama semakin baik untuk keselamatan, agar kendaraan lawan mengetahui keberadaan anda.
  15. Manusia Indonesia diberikan berkah berupa kemampuan untuk bertelepati. Maka tidak perlu repot-repot memberi tanda atau sinyal ketika anda hendak bermanuver, toh semua orang sudah mengerti PERSIS maksud anda.
  16. Ketika berada di tikungan atau belokan yang siku-siku, ambillah jarak terdekat dengan membuat garis miring yang selurus-lurusnya (bahasa matematikanya: hipotenusa). Orang yang berbelok dengan membuat kurva melengkung adalah orang bodoh yang tidak pernah belajar matematika.
  17. Manfaatkan kesempatan yang diberikan oleh pengendara yang sedang mencari kesempatan berbelok pelan-pelan di persimpangan pada lalulintas padat dengan cara mengambil dari tikungan sebelah dalam. Anda pasti aman karena terlindung oleh kendaraannya.
  18. Menyalip dari kanan sangat tidak aman dan berbahaya mengingat ada kendaraan dari arah berlawanan. Menyaliplah dari kiri, supaya aman.
  19. Alon-alon asal kelakon adalah falsafah yang sangat agung dan perlu dilestarikan, bahkan ketika anda berada di jalur paling kanan.
  20. Sebagai orang cerdas yang lihai membaca situasi, jangan pernah berhenti menunggu di jalanan yang sedang padat dan rumit karena bersilang-silangan. Ambil setiap celah yang bisa diambil dan segeralah keluar dari situasi yang menyebalkan tersebut. Jangan beri kesempatan kepada orang-orang sial yang sedang berupaya pelan-pelan mengurai situasi yang kacau itu.
  21. Silahkan ditambahkan…

Mari kita lestarikan budaya asli bangsa kita sendiri!

No responses yet

Jun 02 2006

ngalorngidul

Tanggap Darurat yang Singkat (Gempa Yogya 2006)

Filed under Travel

2006/05/27–Pagi itu saya masih tidur selepas shalat Subuh karena masih lelah setelah hari sebelumnya berkendara Jepara-Semarang-Sleman-Semarang-Jepara seharian penuh. Bahkan saking lelahnya, dalam perjalanan Sleman-Semarang sempat mengantuk dan hampir menabrak angkutan umum yang sedang menaikturunkan penumpang. Tapi tiba-tiba lantai terasa bergoyang. Kebetulan saya hanya tergeletak di atas tikar di lantai 2.

Tidak sulit untuk menebak bahwa telah terjadi gempa bumi yang terasa di Jepara. Seketika saya terbangun, tapi dengan goncangan yang relatif lemah sepertinya bangunan rumah yang saya tiduri cukup kokoh untuk menahan guncangan tersebut. Ayah saya yang kaget karena banyak tetangga yang keluar rumah dan berteriak tentang adanya gempa yang mereka rasakan, hanya berdiri di pintu kamar sambil kebingungan. Nampaknya beliau tidak menyadari bahwa gempa sedang terjadi. Bahkan meskipun saya telah meyakinkan beliau bahwa saat itu sedang terjadi guncangan gempa bumi. Barangkali posisi berdiri beliau yang menggunakan kruk karena pincang akibat persendian lutut terkena asam urat membuat goncangan tidak terlalu terasa. Meskipun beliau berusaha memperhatikan lingkungan sekitar tentang adanya bukti-bukti guncangan gempa.

Menurut prediksi saya, gempa semacam ini beberapa kali (jika tidak dapat disebut sering) terjadi di Jakarta akibat aktivitas vulkanik Gunung Krakatau. Jarak antara Gunung Krakatau dengan Jakarta kira-kira hampir setara dengan jarak Jepara dengan Gunung Merapi yang sedang menunjukkan aktivitasnya. Tapi sungguh sesuatu fenomena yang aneh apabila gempa tersebut berasal dari aktivitas vulkanik karena justru beberapa minggu belakangan, Gunung Merapi sudah menunggu untuk memuntahkan segala isinya. Tapi lokasi titik pusat gempa yang berada di bagian selatan pulau Jawa tampaknya cukup masuk akal, meskipun agak mustahil berasal dari Gunung Merapi.

Beberapa hari yang lalu ketika saya memonitor RSS feed tentang gempa di atas 5.0 SR dari US Geological Survey, di pulau Jawa sempat terdeteksi mengalami gempa. Hanya saja tidak ada berita tentang dampak ataupun kerusakan di daratan. Gempa kali ini barangkali masih terkait dengan gempa tersebut. Meskipun aktivitas gempa di atas 5.0 SR di Laut Banda dan lempengan Sumatera dekat Aceh dan Nias bukan menjadi hal yang aneh lagi.

Siang harinya baru terdengar berita bahwa Yogyakarta diguncang gempa kuat. Banyak bangunan ambruk dan mengakibatkan korban jiwa. Sedangkan kota Yogyakarta sendiri panik diserang isu tsunami. Baru saja kemarin saya jalan-jalan ke Sleman, tapi hari ini Yogya sudah diguncang gempa. Berita yang pertama terdengar adalah kawasan Klaten yang mengalami banyak kerusakan bangunan. Sementara Yogya sendiri tidak terlalu banyak jatuh korban jiwa.

Baru sore harinya setelah televisi-televisi swasta mendapatkan informasi dari para kru di lokasi, saya mendengar informasi yang lebih heboh. Karena berita di televisi masih simpang siur, terutama tentang skala gempa dan lokasi pusat gempa, maka saya mematikan televisi dan mengakses situs USGS untuk mendapatkan informasi yang lebih lengkap. Beruntung akses GPRS Indosat dari Jepara tidak mengalami kesulitan. Awalnya menurut USGS, gempa tersebut berpusat di ± 25km barat daya kota Yogya, berkekuatan 6.2 SR, dengan kedalaman 17 km dpl. Dari informasi ini rasanya pantas jika kawasan Klaten diberitakan mengalami kerusakan lebih parah ketimbang kota Yogya seperti yang terdengar di berita televisi. Menurut USGS, lokasi pusat gempa tampaknya berada di kawasan Bantul. Sedangkan kota Klaten berada pada garis horisontal yang sama dengan Bantul. Bahkan efek gempa ini juga dirasakan hingga kawasan Malang selatan, sekian ratus kilometer ke timur dari pusat gempa.

Sementara tayangan televisi masih menampilkan suasana hiruk pikuk di rumah-rumah sakit di seputaran Yogyakarta, rekaman kejadian sesaat setelah gempa di kota Yogyakarta, dan kekhawatiran masyarakat akan adanya tsunami menyusul gempa, tampak tidak terlihat adanya koordinasi atau komunikasi yang lancar antar aparat pemerintah mengenai kejadian yang sebenarnya. Bahkan meskipun di kawasan Gunung Merapi sendiri telah didirikan pusat pemantauan vulkanik yang tentunya juga memiliki perangkat deteksi gempa. Memang kemudian di televisi diberitakan bahwa komunikasi sempat terputus di kawasan Yogya dan baru bisa pulih siang hingga sore harinya.

Hmm… konfirmasi tentang kekuatan gempa seperti yang dirilis oleh USGS bahkan baru bisa didapat sekian jam setelah kejadian melalui televisi (via BMG Yogyakarta). Jikapun aparat berwenang di Yogya butuh mengkonfirmasikan gempa yang baru terjadi dengan akses internet, hal itu juga akan terhambat karena komunikasi seluler terputus. Tampaknya perlu adanya semacam prosedur alur komunikasi yang lebih handal akan masalah darurat semacam ini. Idealnya semua aparat yang berwenang langsung bisa mempublikasikan atau mengkonfirmasikan satu sama lain tentang bencana alam. Jikapun BMG mengalami kesulitan untuk mendapatkan prediksi yang tepat tentang bencana alam tersebut, maka aparat lainnya bisa langsung mengakses situs USGS untuk mendapatkan informasi mutakhir sebagai gambaran. Namun jika jalur komunikasi terganggu, maka aparat di lokasi lain, harus lebih tanggap. Alias, bisa jadi pihak BMG di Semarang atau Surakarta langsung berusaha menghubungi aparat di Yogyakarta tentang bencana alam yang baru saja terjadi. Apakah gempa bumi disertai dengan tsunami, ataukah tidak sebagai misal. Bahkan jika perlu semua aparat yang terkait dengan bencana alam memiliki jalur komunikasi darurat seperti telepon satelit agar komunikasi tidak terputus.

Buktinya ketika tsunami melanda Aceh dan sekitarnya, jalur komunikasi sama sekali terputus. Aparat di daerah lain pun tidak bisa mengkonfirmasikan dampak kerusakan bencana alam yang baru terjadi. Sementara aparat yang berada di lokasi sedang terisolir komunikasi. Jika saja aparat di Aceh memiliki jalur komunikasi darurat yang andal, maka setidaknya informasi tentang tsunami maha hebat yang melanda daerah mereka bisa langsung dipublikasikan kepada yang lain.

Bahkan sepertinya presiden pun harus menunggu lama untuk mendapatkan kepastian tentang dampak kerusakan dan rincian bencana alam yang terjadi di Yogya. Jika presiden bisa cepat mengakses situs USGS, maka barangkali beliau bisa bertindak lebih cepat sehingga konferensi pers tentang tanggap darurat sudah bisa dilakukan sebelum waktu Dhuhur masuk. Barangkali jika menunggu birokrasi berjalan, akan lama terhambat. Bukan semata karena jalurnya yang panjang dan berliku, tapi karena harus menunggu konfirmasi dari petugas di lokasi kejadian.

Sama juga ketika gempa di Aceh yang disertai tsunami, BMG hanya mendeteksi gempa dengan skala di bawah 9.0 SR dan sama sekali kurang memperhitungkan efek tsunami. Sedangkan USGS merilis gempa yang berkekuatan 9.0 SR meskipun ukuran tersebut juga hanya bersifat prakiraan. Tampaknya over estimate terhadap bencana alam lebih bermanfaat ketimbang pengukuran yang akurat. Karena over estimate tersebut lebih membantu terhadap langkah tanggap darurat ketimbang harus menunggu pengukuran yang akurat.

2 responses so far

Feb 14 2006

ngalorngidul

Aniaya Konvoi Kendaraan Bermotor

Filed under Driving, Safety

Akhir-akhir ini di Indonesia, terutama kawasan Jabotabek banyak terbentuk klub hobi, begitu juga dengan hobi kendaraan bermotor yang berkembang seiring pertambahan mobil dan motor baru. Karenanya, para pemilik kendaraan ini kemudian berkumpul bersama berdasarkan hobi dan ketertarikan bersama. Mulai dari diskusi bersama, tukar-menukar informasi, jualan pernak-pernik aksesoris kendaraan. Pendirian klub pun bervariasi, berdasarkan lokasi tempat tinggal, lokasi kantor, merek/tipe kendaraan. Nah, dengan berkembangnya kegiatan, makin banyak pula klub ini yang memiliki jadwal tetap untuk berkumpul bersama atau jalan-jalan bersama di akhir pekan.

Yang paling favorit adalah jalan bersama berkonvoi sesama anggota klub. Untuk klub kendaraan mewah atau dalam jumlah sangat besar, mungkin mereka bisa meminta bantuan kepada pihak Kepolisian untuk mendapatkan pengawalan. Untuk klub yang lebih kecil, biasanya mereka membentuk tim pengawal sendiri. Nah, dalam prakteknya, keberadaan konvoi kendaraan dalam jumlah banyak tentunya akan mengganggu lalu lintas jalan raya yang mereka lewati. Meskipun mereka berusaha supaya tetap tertib dengan pimpinan semacam road captain dan penutup jalan. Tapi tetap saja, konvoi ini bisa saja (meskipun dengan sangat sopan) melanggar lampu lalu lintas (supaya rekan konvoinya tidak tertinggal rombongan yang lain). Apalagi dengan klub kendaraan mewah seperti motor besar yang akhir-akhir ini banyak dikritik karena dianggap arogan. Bagi klub hobi ini, konvoi adalah suatu kegiatan yang sangat ditunggu-tunggu.

Sayangnya, ada beberapa konsep dasar dalam berkendara/berlalu lintas yang agak dikesampingkan ketika segolongan orang melakukan konvoi kendaraan bermotor (roda dua atau lebih):

  1. Dalam berlalu lintas, konsep dari masing-masing pengendara adalah berbagi fasilitas. Pembagian fasilitas ini beberapa hal diatur dalam rancangan jalan raya, rambu, dsb. Jadi sebelum mempertahankan hak menggunakan fasilitas jalan raya, ada baiknya memperhatikan hak pengendara yang lain. Untuk itu saya justru mempertanyakan, "Apakah hak konvoi pengendara motor meminta jalan pada pengendara lain?"
  2. Saya lebih setuju apabila konvoi bersama ini dipecah dalam kelompoklebih kecil dengan jarak yang tidak terlalu berdekatan. Karena kembalilagi ke konsep dasar berlalu lintas, kita harus saling berbagi denganpengendara yang lain.
  3. Terlepas dari sanksi (contoh: sanksi internal terhadap oknum HTML–Honda Tiger Mailing List), pengendara ‘normal’ manapun yang membawa kendaraan sendiri (baik mobil maupun motor), tiba2 terjebak di tengah konvoi, tentu saja membuat panik. Apalagi jika konvoi dengan voorijder ini merupakan konvoi tidak resmi (tidak masuk aturan lalu lintas, pejabat, presiden/wapres, ambulans, pemadam kebakaran, dll).
  4. Yang saya benci dari konvoi klub kendaraan bermotor (baik motor maupun mobil) adalah memenuhi jalan raya dan menghalangi pengendara lainnya. Terutama ketika konvoi berusaha mempertahankan kecepatan tertentu.

Ketika berada dalam kebersamaan komunitas, saling berbagi menjadi prioritas. Tapi kenapa ketika berada di dalam komunitas lebih besarjustru menjadi arogan? Hm… loyalitas terlalu sempit?

Memang bagus modifikasi motor supaya memiliki sirine, lampu kerlap-kerlip ala petugas keamanan (mobil polisi, atau safety car balapan), tapi gunakan semestinya. Misalnya untuk mengawal rombongan pengendara motor yang mudik. Kalo itu saya setuju. Karena lawannya adalah bus Sinar Jaya, Deddy Putra, dll jurusan Jakarta-Cirebon yang buandel2.

Kalaupun klub ini ingin melakukan konvoi, sebaiknya dipecah-pecah dalam rombongan kecil sehingga tidak banyak mengganggu lalu lintas. Jadi para rombongan konvoi mendapat briefing sejak awal tentang jalur dan tujuan konvoi. Saat mereka di jalan, dipecah dalam rombongan kecil, kira-kira 5 kendaraan sehingga tidak perlu menyetop arus kendaraan lain atau melanggar lampu lalu lintas. Wong klub hobi kendaraan bermotor kok malah memberi contoh bagaimana melanggar peraturan lalu lintas? Memang konvoi berhak mendapatkan prioritas, tapi sebenarnya, bagaimana mereka bisa seenaknya mengklaim hak konvoi ini? Hanya dengan road captain bermodalkan sirine, lampu kelap-kelip yang membuat pengguna jalan lain jadi waspada?

Bahkan pengawalan dari aparat Kepolisian justru makin membuat iri pengguna jalan yang lain. Sepertinya terjadi diskriminasi di sini.

One response so far

Jan 27 2006

ngalorngidul

Tertib Berlalulintas

Filed under Driving, Safety

Perilaku pengendara (masyarakat Indonesia) dalam berlalu lintas rupanya sangat tidak tertib. Apalagi dalam kondisi lalu lintas yang padat, akan mudah terlihat betapa tidak tertibnya para pengguna jalan. Peraturan sebenarnya sudah ada dalam UU Lalu Lintas. Namun penegakannya yang masih perlu dipertanyakan.

Institusi kepolisian sebagai tonggak utama penegakan UU Lalu Lintas rupanya tidak mampu mengatasi kerunyaman lalu lintas. Hal ini sangat mencolok pada kondisi lalu lintas di kota besar yang melibatkan banyak kendaraan dan banyak orang. Semakin banyak orang, tentunya semakin perlu peraturan ditegakkan agar semuanya dapat terlayani atau memanfaatkan fasilitas jalan dengan baik.

Budaya Indonesia

Perilaku tidak tertib ini rupanya sangat terkait dengan budaya keseharian masyarakat Indonesia ini. Dengan kondisi alam Indonesia yang subur, kaya dengan sumber daya alam tentunya membuat masyarakat yang hidup di dalamnya harus berjuang untuk mengolah alam yang penuh rahmat ini. Namun karena ketersediaan sumber daya alam yang banyak membuat masing-masing orang saling berebut lebih dahulu dalam hal penguasaan. Sehingga orang yang datang belakangan hanya menikmati sisanya. Tentunya sisa ini masih mencukupi untuk dijadikan sandaran hidup sehari-hari.

Dengan begitu, budaya maklum juga sangat terpelihara di bumi Indonesia ini. Karena pendatang yang belakangan harus memaklumi bahwa dia harus mencari lahan/mengolah alam yang tersisa dari penguasaan. Tidak ada yang dapat dilakukan olehnya untuk memperoleh lebih banyak, atau mengambil alih penguasaan (secara umum). Begitu juga ketika berkendara, karena saya yang lebih berkuasa (dengan kendaraan lebih besar dan lebih cepat), maka pengendara atau pengguna jalan yang lain harus maklum pada saya. Apapun kondisinya, pokoknya hak saya harus ditegakkan untuk melintasi jalan ini dengan sempurna. Akhirnya kebiasaan ini berlanjut terus hingga abad modern di mana kota-kota semakin berkembang menjadi metropolitan yang memiliki kompleksitas tinggi.

Begitu pula dengan pola kehidupan sosial masyarakat yang sangat erat. Membuat budaya maklum semakin terpelihara, selama ia mematuhi peraturan komunitas tersebut. Tapi sekali saja ia melanggar peraturan komunitas ini, maka hukuman sosial akan lebih berat.

Budaya Barat

Berbeda dengan alam di Eropa (baca: negara Barat) yang umumnya tidak memiliki sumber daya alam sekaya Indonesia. Akibatnya para penduduknya pun harus saling berbagi untuk dapat meneruskan kehidupan. Karena sumber daya alam yang begitu sedikit. Kesewenangan dalam penguasaan tanpa mau membagi tentunya sangat tidak alamiah, karena dia akan mendapat penentangan dari orang-orang di sekitarnya yang tidak kebagian.

Ketika berkendara di jalan, maka ia pun menghormati pada pengguna jalan yang lain yang direfleksikan pada dirinya. Jika ia berada pada posisi seperti itu (posisi minoritas/kalah), maka dia akan sangat gembira jika dia mendapat kesempatan yang sama. Sehingga para pengguna jalan tidak peduli apakah dia lebih besar atau lebih cepat, semuanya memiliki hak yang sama dalam menggunakan fasilitas jalan ini. Sehingga mereka saling berbagi, tidak saling menyerobot, karena toh jika sedang macet, perbedaan hanya berjarak beberapa mobil, tidak berbeda setengah jam, maksimal hanya lima menit.

Akan halnya pola kehidupan sosial dari penduduk Eropa yang cenderung individualistis, ternyata sangat mendukung pola hidup saling berbagi ini. Masyarakat sekitar tidak boleh tahu urusan dirinya, yang penting keberadaan dirinya tidak mengganggu orang disekitarnya. Karena dia sendiri tidak ingin kepentingan pribadinya terganggu.

Penerapan konsep sederhana antara saling berbagi dan saling berebut ini dalam skala yang lebih besar akan sangat berarti. Perilaku yang baik dari pengendara dalam lalu lintas padat akan sangat berarti bagi ketertiban lalu lintas secara keseluruhan. Walaupun memang di rumahnya (yang mungkin tidak berada di perkotaan) tidak pernah ada masalah jika ia berlaku tidak tertib, namun itu bukanlah alasan bahwa ia harus berlaku tidak tertib.

Memang kode etik di jalan raya selalu ada, apakah itu di negara yang tertib (seperti Amerika Serikat sebagai contoh mudah), atau di Indonesia yang lumayan ruwet lalu lintasnya. Pada penduduk yang tertib berlalu lintas, kode etik ini didasarkan pada peraturan lalu lintas yang ada. Sedangkan kode etik pada dari penduduk yang tidak terbiasa tertib adalah didasarkan pada situasi dan kondisi di jalan raya.

Contohnya, dalam hal berpapasan di jalan luar kota, kode etik pengendara di AS adalah mendahuluilah kendaraan di depan jika kondisi memungkinkan. Kondisi memungkinkan ini terdiri dari, pandangan bebas tidak terhalang, marka jalan yang membolehkan, dan mendahului dari sebelah kanan dengan leluasa dari kendaraan dari arah berlawanan. Kendaraan yang arah lalu lintasnya berlawanan dapat mengingatkan pengendara yang akan atau sedang mendahului ini untuk mempercepat proses mendahului ini atau membatalkannya karena kondisi yang tidak memungkinkan dengan menggunakan kode lampu dim untuk mengingat si pengendara ini. Sedikit saja sorot lampu dim terlihat, maka pengendara ini pun bersabar untuk menunggu kesempatan mendahului berikutnya setelah kendaraan dari arah berlawanan tersebut lewat.

Sementara di Indonesia, hukum yang berlaku adalah hukum alam. Kondisi memungkinkan adalah bukan pada kondisi darurat, yaitu kendaraan akan bertabrakan. Dalam hal mendahului kendaraan lain, maka aturannya hanya satu, apakah si pengendara ini dapat melajukan kendaraannya mendahului kendaraan di depannya tanpa menabrak kendaraan dari arah berlawanan. Tidak peduli apakah ada marka jalan yang melarang, pandangan tidak bebas, atau bahkan kendaraan dari arah berlawanan telah berulang kali mengingatkan si pengendara ini dengan lampu dim. Sekalipun proses mendahului ini hasilnya sangat mepet, atau hampir bersenggolan atau bertabrakan.

Hal ini terlihat pada perilaku pengemudi bus malam. Satu-satunya yang dapat menghalangi mereka adalah, kode etik untuk mengingatkannya. Bukannya lampu dim sekali atau sorot terang dari lampu kendaraan di hadapannya, tetapi lampu dim berkali-kali untuk mengingatkan bahwa dia tidak mau memberikan kesempatan bagi kendaraan di depannya untuk mendahului. Lampu dim ini dinyalakan berkali-kali hingga si pengendara membatalkan niatnya untuk mendahului. Jika hanya beberapa kali, hasilnya tetap sama saja, si pengendara membandel dan tetap mendahului kendaraan di depannya walapun akan mepet atau bahkan membuat posisi kendaraan di hadapannya terjepit sehingga harus berhenti atau minggir.

Tentunya jika seseorang ingin bertahan hidup di komunitas tertentu, dia harus beradaptasi dengan lingkungan tersebut. Jika ia bertahan dengan konsep-konsep aturan yang ia yakini, walaupun tidak sesuai dengan aturan dalam komunitas. Niscaya dia tidak dapat bertahan hidup, karena hidupnya akan tersiksa, selalu menjadi terhukum. Begitu juga dengan menegakkan ketertiban lalu lintas yang benar selalu akan menjadi bulan-bulanan pengguna jalan lain yang tidak sadar dengan tertib lalu lintas. Memberikan kesempatan pada pejalan kaki untuk menyeberang di zebra cross saja sudah diklakson oleh pengendara di belakangnya yang tidak sabar untuk segera melaju karena dianggapnya tak ada hambatan berarti seperti kemacetan. Padahal pejalan kaki punya hak untuk menyeberang dengan aman, tanpa harus was-was akan ditabrak. Semakin sering ia ‘menegakkan ketertiban’, semakin banyak pula pengendara lain yang terganggu dengan ‘penegakan ketertiban’ ini. Karena memang mereka tidak sadar akan aturan ketertiban yang seharusnya diperoleh ketika mengajukan permohonan SIM.

Tentu tidak seimbang jika memperbandingkan AS dengan Indonesia dalam hal ketertiban ini. Karena banyak alasan yang membuat pengendara Indonesia berlaku tidak tertib. Apakah itu karena aparatnya yang tidak menegakkan aturan, atau kondisinya yang tidak memungkinkan (terlalu banyak kondisi darurat di jalan raya Indonesia, jembatan rusak, jalan yang berlubang).

Namun masalahnya tinggal kebiasaan. Jika masyarakat menyadari akan arti pentingnya saling berbagi, segalanya akan menjadi lebih mudah. Bukan hanya berbagi suka dan duka dalam hidup sosial, tetapi juga ketika berada di jalan raya. Jangan sampai dia melanggar hak orang lain, atau berbuat zalim pada orang lain dengan melanggar haknya untuk memanfaatkan fasilitas jalan.

Contoh Perilaku Tidak Tertib

  1. Mendahului kendaraan lain tanpa mempedulikan kendaraan dari arah berlawanan (apalagi jika kendaraan itu lebih kecil, seperti bus malam yang berhadapan dengan kendaraan pribadi).
  2. Menyerobot jalan dan berjejal, walaupun efeknya hanya lebih cepat beberapa detik, atau menit. Apalagi jika berada dalam kondisi macet, efeknya makin tidak signifikan, kecuali ketidaksabarannya terpenuhi.
  3. Pengendara motor yang berada di lajur tengah, ngotot tidak mau minggir jika ada kendaraan lain yang ingin mendahuluinya.
  4. Pengendara mobil yang ingin mendahului dari sebelah kiri sampai harus mengusir pengguna jalan lain, seperti pejalan kaki, pengendara sepeda, pengendara motor, walaupun lajur kiri ini bukanlah hak dari pengendara mobil untuk menggunakannya.
  5. Mengendarai kendaraan dengan jarak bumper-to-bumper walaupun dalam kecepatan tinggi di jalan tol. Dianggapnya sama dengan jalan macet di perkotaan yang membuat orang lain tergiur untuk menyerobot karena ruang yang tersedia. Bahkan hal ini akan menjurus pada kecelakaan dan kemacetan yang lebih panjang, karena orang saling berebut untuk berada terdepan, walaupun harus menghadang lalu lintas dari arah sebaliknya. Juga menyulitkan pengguna jalan lain untuk lewat (misalnya motor, atau pejalan kaki yang ingin menyeberang).
  6. Pengendara motor yang tidak menyalakan lampu. Entah apa sebabnya, padahal kondisi motor pun terlihat masih bagus, tapi segan menyalakan lampu, mungkin dianggap seperti uji nyali. Padahal perlengkapan lampu itu ditujukan agar pengendaranya lebih nyaman dalam berkendara di malam hari karena jalan lebih terlihat jelas, juga sebagai identitas keberadaan dirinya di jalan bagi pengendara jalan yang lain.
  7. Melanggar marka jalan. Mungkin banyak yang menganggap marka jalan hanya sekedar penghias jalan raya. Sehingga seringkali dianggap remeh, padahal marka jalan diberikan untuk memberikan batasan-batasan bagi pengendara ketika
    melintasinya, sehingga memperkecil kemungkinan kecelakaan karena mendahului di tikungan dengan pandangan tidak bebas misalnya.

Sekian dulu unek-unek saya. Lain kali dilanjutkan. Oya terakhir, jangan terlampau mengandalkan pak Polisi dalam penegakan ketertiban jalan raya ini. Memang rasio polisi selalu tidak seimbang dengan masyarakat. Kemacetan selalu mengandalkan polisi ini cuma karena para pengguna jalan tidak saling tertib. Kasihan mereka, karena tugas polisi lalu lintas bukan hanya mengatur kemacetan. Kemacetan hanya bisa diatasi dengan kesabaran dan ketertiban. Sayangnya memang ketertiban ini hanya tegak di hadapan petugas.

Sebagaimana dikirimkan ke Redaksi Suara Surabaya http://suarasurabaya.net menanggapi berbagai diskusi perilaku lalu lintas di acara Kelana Kota.

technorati tags: ,

No responses yet

Jan 25 2006

ngalorngidul

Road Flood at Jakarta: Prepare Yourself for a Boat

Filed under Driving, Vespa

Just when I thought I have experienced the worst road flood. It turned out it was just a regular and daily routinity on Jakarta’s road condition when it was raining. I had through a terrible road flood when I went to Pondok Cina (Depok) from my home. It was raining hard and I cut through Univ. of Indonesia complex. Just leaving Polytechnic gate, I was on a curve crossing a small river which connects a natural water resource (Bahasa: situ) and a valley. The valley separates faculty of economy and cultural sciences. When it was raining, the small river overflow the road above it. I was driving a Piaggio PX-150 and swam through the flooded road. I mean I was really swimming on the water instead of driving through the flood. I had trouble to maintain wheel grip. As I remember, it was like a 2-stroke 150cc 2-wheeled boat.

Until I regularly commute between my home (Depok–a suburb city) and Jakarta to the office. I have never feared and worried about hard rain since I have well prepared. Two set of raincoat, a pair of sandals, and good helmet assures me to drive through the rain. The perfect and goodly shaped Piaggio was ideal to prevent water splashes from my own driving. Unlike non-scooter motorcycle, Vespa (as well as other scooter) have large wing on the front side to protect me from front tyre’s splash. The raincoat and sandals are good to protect me from unwanted splashes from other vehicle.

It was fine when I travelled between Depok-Ps. Minggu, or Depok-Salemba. But someday, I need to find another low traffic route to go from Salemba-Mampang. Sinces it was raining, the usual route (Salemba-Manggarai-Pancoran-Mampang) was already crowded. I thoguht Kuningan route would provide more space than the usual route. No suspicion until I hit the Jl. Rasuna Said (the official name of Kuningan road). The rain was OK for me. But the road flooded with water, reaching 50cm deep. The water height was a problem for my low-road clearance exhaust. If the traffic is till flowing, I have courage to drive through while maintaing my throttle high to prevent water flooded my exhaust. But the traffic were not flowing and it turned out that cars avoiding the flooded too since it was too deep. The worst section had about 80cm deep. With that condition, I decided to stop by at unflooded area waiting for the flood gone. Because 10 minutes driving on flooded water had cause the Piaggio’s gear hard to change.

Today (2005/09/30), on Friday evening, I was on the way to Rudy’s office. The crowded and flooded Jl. Supomo, especially the section across Sahid University made me divert route. I thought the alternative route through Tebet Barat was less flooded. But it wasn’t and I chose to stop by at a near mosque avoiding flooded-traffic jam and conduct Maghrib pray. I finally realize that it was just a usual evening of flooded Jakarta. After all when I watch the news about Jakarta’s flood on the day I got trapped at Kuningan, the other road had gone worst, stopping almost every vehicle.

One response so far

Older Posts »